Laman

Jumat, 18 Februari 2011

Kreasi Botol Bekas Hasilkan Puluhan Juta Per Bulan


Bagi sebagian orang, barang-barang bekas yang sudah tidak bernilai dan teronggok sia-sia di tempat sampah bisa dijadikan ladang usaha yang menghasilkan uang, bahkan tak jarang uang yang didapat dari pemanfaatan barang bekas tersebut bernilai tinggi. Asalkan ada ide kreatif dan juga sedikit usaha.

Siapa bilang barang bekas tidak bisa berubah menjadi barang yang memiliki nilai seni tinggi, lihat saja Bob Novandy, lewat tangan kreatifnya ia menyulap botol plastik bekas menjadi lampu-lampu cantik beraneka ragam bentuk.
Bob mengawali usahanya pada Agustus 2003. Ide awal muncul saat melihat sang anak minum dan langsung membuang botolnya. Bob lalu mengambil pisau dan mulai membentuk botol menjadi lampion. Sejak saat itu, ia termotivasi terus berkarya sambil mencipta lapangan kerja.
Hanya butuh sejam bagi Bob untuk menyelesaikan satu lampu cantik. Sampai saat ini, dia sudah menciptakan ratusan model lampu. Dia mengaku bekerja di rumahnya di Jalan Jeruk Manis No.59, Kebun Jeruk, Jakarta Barat.
Harga lampion yang di jual Bob bervariasi tergantung ukuran serta detil hiasan. Bob mematok harga termurah Rp 35 ribu per unit. Sementara lampion ukuran besar yang dilengkapi ranting warna-warni, manik-manik, dan berkelap-kelip dijual hingga harga Rp 800 ribu per unit.
Rancangan lampu Bob memang unik-unik. Dia pernah menciptakan lampu kristal gantung dari pantat botol plastik minuman ringan. Sebanyak 287 botol, galon air mineral, dan kawat menjadi bahan dasarnya. Setelah selesai, lampu itu diberi lampu TL. Maka, pantat botol-botol plastik tersebut bersinar mirip pendaran kristal.

Botol-botol plastik bekas didapatkan Bob dari para pemulung. Hampir tiap hari ada saja pemulung yang mendatangi dirinya. ''Bisa botol air mineral besar atau yang gelasan,'' katanya.

Bob memang dikenal nyentrik oleh tetangganya. Saat ditemui dia mengenakan kemeja bermotif bunga-bunga khas Bali. Beberapa kancingnya sudah dilepas. Tentu saja hal itu bukan karena tidak punya baju. Dia mengaku baju tersebut adalah baju kesayangannya. ''Saya merasa gampang mencari ide kalau pakai baju ini,'' ujar mantan sekretaris pribadi Ketua Komisi I DPR itu.

Menurut dia, selain karena baju, inspirasi bisa datang sendiri. Ketika berhadapan dengan botol-botol plastik bekas, cat, gunting, atau lem, ide langsung muncul.
Tidak semua botol dipilih. Bob hanya mengambil yang masih mulus dan tidak penyok. Selain botol, beberapa pernik lain yang mendukung kreasinya adalah tempat oli, botol pembersih lantai, piala bekas, botol minuman dari beling, kayu atau vas bunga, hingga tutup obat pembasmi nyamuk.
Produk-produk daur ulang masih menjadi bisnis yang menggiurkan. Selain tidak perlu bermodal besar, bisnis ini hanya memerlukan kreativitas yang tinggi. Bob Novandy termasuk yang jeli melihat peluang ini.

Beberapa produk seperti lampions dengan berbagai macam ukuran, tirai-tirai rumah, miniatur kendaraan ia produksi sendiri dari tangannya yang sangat terampil. Ia mengaku, saat ini semua produksi lampions daur ulangnya diproduksi jika ada pesanan saja. Produksi lampionsnya setidaknya sudah menembus pasar Hongkong.

"Pasar yang saya incar seperti cafe, perumahan, lokasi kost dan lain-lain," kata Bob.

Saat ini semua pesanan yang ia perolehnya umumnya masih dari mulut ke mulut, semua penjualan produknya tidak melalui gerai khusus. Bagi pemesan yang berminat umumnya langsung mendatangi rumahnya di Kebon Jeruk.

Bob mengatakan dalam sebulan ia mampu memproduksi lampions hingga 300 unit dengan omset Rp 20 juta, ini terjadi jika  Bob sedang mendapat orderan penuh dari para pemesan.

"Bisnis ini untungnya gede, tapi ngggak rutin ordernya, misalnya Coca Cola salah satu pelanggan saya, yang membeli untuk dikirim ke Hong Kong," katanya.

Lulusan IISIP Jakarta tahun 1980 ini, mengakui untuk menghasilan produk-produk bernilai tinggi, ia hanya memerlukan bahan baku dari lapak-lapak pemulung. Harga bahan baku botol plastik bekas rata-rata Rp 4000 per kg atau sekitar 10 botol, yang bisa diolah menjadi satu produk lampions.

Bob yang mengklaim namanya dari kependekan  dari kata Bantu Orang Banyak (BOB) ini, tidak memerlukan modal besar untuk menjalankan bisnis ini. Hanya dengan bahan-bahan seperti pisau cutter, gunting dan cat, ia sudah bisa menjalankan bisnis ini.

"Sayangnya apresiasi masyarakat terhadap barang daur ulang masih menganggap remeh, mereka masih melihat bahan, bukan pada proses," katanya.

Kemampuan mengolah sampah ini ia juga turunkan kepada anak-anak sekolah dasar, Bob sempat mengajar di beberapa sekolah dasar di wilalayah Jakarta Barat. Pria yang suka mengutak-atik kata ini punya pandangan sendiri terkait makna kata Lampions yaitu berasal dari kepanjangan kata Langkah Alternatif Mengatasi Pengangguran Ikhlas Optimis Niat Sejahtera
Tahun 2006 lalu Bob mendapat proyek pesanan dari Taman Safari sebanyak 280 unit lampion dan 86 lampion lainnya untuk hotel yang berfungsi sebagai hiasan. "Waktu itu masih murah, dari 366 buah lampion harganya cuma Rp 6 juta. Saya ambil untung Rp 20.000 untuk setiap lampion," katanya.

Bob sering mendapat pesanan dari berbagai cafe dan restoran di Jakarta, bahkan tak jarang ia pun mendapat pesanan dari perusahaan-perusahaan besar. "Kalau pesanan banyak seperti itu saya bisa dapat omzet hingga Rp 11 juta dalam sebulan," kata Bob.

Ia mampu mengerjakan sekitar 350 buah lampion setiap bulannya, harganya bervariasi tergantung dari tingkat kesulitan pembuatan lampion dan ukuran lampion. Kisaran harga yang ia tetapkan berkisar Rp 35.000 sampai Rp 800.000. Lampionnya diberi lampu dan kaki untuk dudukan lampion. "Jika dilihat sekilas pada malam hari ketika lampu dalam lampion dinyalakan, orang sering mengira lampion ini berasal dari bahan kristal," katanya.

Menghasilkan prakarya seperti ini memang membutuhkan keterampilan tersendiri. Namun peralatannya begitu sederhana, hanya bahan utama berupa botol plastik bekas, lampu, kabel, alat pemotong dan piloks. Cara pembuatannya setelah botol dibersihkan, buat garis samar untuk jalur pemotongan baru dipotong sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Setelah itu warnai dengan piloks dan pasang lampu serta kabel. lalu langkah terakhir membentuk lampion dari irisan-irisan yang telah dibuat. "Dalam sehari saya bisa membuat sekitar 15 buah lampion," ujarnya. (fn/tn/dt/knt) www.suaramedia.com

Bisnis Kreasi Bunga Dan Kulit Jagung

Hampir dipastikan, semua orang mengenal jagung. Tumbuhan jenis padi-padian dengan sejumlah lapisan pembungkus yang disebut kulit jagung. Bagi sebagian orang, kulit jagung ini mungkin tak bernilai apa-apa. Bahkan hanya jadi sampah. Di tangan Heri Darmawan, perajin asal Klaten, Jawa Tengah, kulit jagung atau klobot tidak dianggap sampah. Heri "menyulapnya" menjadi benda seni bernilai tinggi. Dengan bermodal semangat dan peralatan seadanya, warga Desa Jambu Kulon, Ceper, Klaten ini memulai kreasinya dengan menyetrika klobot hingga rata. Kemudian klobot digunting sesuai bentuk yang diinginkan.

Selanjutnya guntingan klobot ditempelkan satu persatu pada lembar fiber menggunakan lem hingga seluruh permukaan fiber tertutup. Proses selanjutnya adalah memasang fiber yang sudah ditempeli klobot jagung pada sebuah rangka bambu. Setelah selesai tinggal memasang dudukan lampu bohlam pada bagian bawah. Dan jadilah sebuah lampu unik dari klobot jagung.

Saat lampu kulit jagung dinyalakan terlihat sangat indah. Bagi yang baru melihatnya mungkin tidak akan menyangka bahkan tak percaya kalau lampu itu terbuat dari bahan yang biasanya dibuang, yaitu kulit jagung.
Harga jual kerajinan ini cukup mencengangkan. Tiap unit lampu klobot dijual antara Rp 150 ribu sampai 350 ribu rupiah tergantung model dan ukuran. Pemasaran lampu klobot sudah menembus berbagai kota di wilayah Indonesia, seperti Yogyakarta, Jakarta, dan Bali. Bahkan sekarang sudah ada peminat dari Jepang yang mengambil sampel untuk dibawa ke negaranya.

Kreativitas tidaklah cukup tanpa kemauan. Seperti yang dilakukan Yayan, warga Desa Jati, Kecamatan Tarogong Kaler, Garut, Jawa Barat, belum lama ini. Di tangan bapak satu anak itu, sampah kulit jagung disulap jadi kerajinan bunga hias yang bisa mendatangkan rupiah.

Peralatannya sederhana. Sediakan gunting, pisau cutter, serta lem bakar. Selain kulit jagung, ada juga bahan penunjang yang dipakai. Antara lain stereofoam, ranting kering, dan buah pohon suren sebagai penghias.

Caranya juga tidak sulit. Kulit jagung yang sudah diberi warna sesuai keinginan digunting mengikuti pola. Potongan-potongan pola kemudian disatukan dengan steples dan digabungkan dengan kelopak bunga dari sterofoam. Jangan lupa menghiasnya dengan biji pohon suren untuk membentuk mahkota bunga yang utuh.

Begitu juga dengan Laila Zulfaqar. Di tangan wanita berusia 50-an tahun ini, kulit jagung bisa menghasilkan pendapatan jutaan per bulan.

Berawal dari niat ingin memberdayakan masyarakat sekitar, istri M. Zulfakar, Lurah Bingai, Kec. Wampu, Kab. Langkat ini memulai usahanya. Dia membuat bunga dari kulit jagung. “Sebenarnya sudah lama saya menekuni handycraft, sejak tinggal di Yogya. Tapi saya ingin memberdayakan warga di sekitar tempat tinggal saya. Anak-anak putus sekolah dan ibu-ibu rumah tangga yang ingin menambah income,” ucapnya.

Laila, biasa wanita berjilbab ini disapa, menuturkan tidak mudah membuat kerajinan tangan dari kulit jagung. “Sangat rumit makanya harganya juga sedikit mahal,” ungkapnya. Proses pembuatan bunga kering dari kulit jagung diawali dengan memilih kulit jagung yang cukup umur (sekitar 3 bulan) untuk direbus.

Setelah itu, kulit dilepaskan satu persatu dari tungkulnya dan dipilah sesuai lembarannya. “Lembaran 1-3 adalah kualitas satu dan digunakan untuk daun bunga yang berwarna tua. Sedangkan lembaran 4-6 untuk warna yang lebih muda (cerah),” bebernya.

Kulit jagung yang sudah dipilah selanjutnya direbus dengan pewarna selama satu jam sampai warnanya terserap rata. Selama perebusan, kulit jagung harus dibolak-balik agar warnanya merata. Selanjutnya kulit jagung ditiriskan/dikeringkan tanpa sinar matahari. “Tidak boleh dijemur diterik matahari karena kulitnya akan pecah. Biarkan kering terkena angin,” terangnya. Kulit jagung yang telah kering sempurna selanjutnya disetrika dengan panas sedang. Langkah selanjutnya kulit jagung dilapis dua sebelum dipola. “Harus digandakan, kalau satu terlalu tipis dan mudah sobek,” jelas wanita bertubuh tinggi ini.

Kulit jagung yang sudah di-double selanjutnya dipola sesuai keinginan. Lalu diserut sesuai lengkung yang diinginkan. Proses terakhir merangkai bahan sesuai bentuk bunga. Selesai dirangkai, bunga diberi tangkai berupa kawat yang dibalut floral tape.

Bunga buatan Laila dapat bertahan hingga 3 tahun dengan syarat tidak terkena sinar matahari dan air. Ibu lima anak ini tidak hanya memanfatkan kulit jagung menjadi bunga kering tapi juga buah dan biji. “Bunga dan biji pun dapat dijadikan bunga kering tapi prosesnya cukup rumit,” ucapnya.

Buah dan biji yang digunakan adalah buah hutan yang banyak tumbuh di pinggir jalan. Seperti buah suren, mary gold (masyarakat Langkat mengenalnya dengan istilah bunga udel), buah pinus, biji akasia, buah rotan, buah mahoni, bola akar, pandan laut, buah anyang, biji asam, palem putri (hanya kulitnya), kacang koro, bunga rumbia dan masih banyak lagi.

Kini Laila memiliki 5 karyawan tetap. “Ada juga yang diantar ke rumah-rumah, tergantung pesanan,” cetusnya seraya mengatakan ada 15 orang mengerjakan bunga kering di rumah masing-masing. Meski belum memiliki galeri untuk memasarkannya, tapi sarjana Ekonomi Managemen ini mengaku kewalahan memenuhi permintaan konsumen.

Dalam sebulan omzetnya Rp.5 juta - Rp.10 juta. Bahkan 3 bulan menjelang lebaran, omzetnya mencapai Rp. 15 juta per bulan. Bunga kering yang dijualnya harganya sangat variatif, mulai dari Rp. 5.000 hingga Rp. 15 ribu per tangkai. Ada juga bunga kering yang sudah dirangkai dengan harga Rp. 100 ribu - Rp. 250 ribu.

“Produk saya ini masih home industri. Untuk pemasarannya sendiri nantinya akan ada galeri. Tapi sampai saat ini baru dari mulut ke mulut, soalnya permintaan konsumen tidak terpenuhi,” ujar wanita yang pernah bekerja di Save The Children ini. Sebenarnya, istri Pak Lurah ini dapat mengembangkan usahanya dengan menggunakan mesin sehingga hasil produksinya jauh lebih banyak.

“Saya ingin mengundang apresiasi masyarakat untuk mencintai kerajinan tangan ini,” tuturnya. Dengan kreatifitasnya, Laila membuka lowongan pekerjaan buat orang lain dan menambah pendapatan mereka. Saat ini Laila mengikuti pameran UMKM bergabung dengan stand Tan Collection di lantai I Plaza Medan Fair Jl. Gatot Subroto, Medan. Tertarik untuk mencoba? (fn/l2p/ps/Klik video liputan6.tv) www.suaramedia.com

Kreasi Daur Ulang Sampah Naik Derajat

Sampah plastik dari bekas kemasan serbuk minuman yang seringkali dianggap hanyalah sampah plastik tak berharga dan menjadi penghuni tempat sampah, ternyata bisa disulap jadi aneka bentuk benda bermanfaat. Di Pati, Jawa Tengah beragam kreasi unik dibuat mulai dari tas hingga dompet.
Inilah rumah Nurhayati di Desa Kaligoro, Kabupaten Pati Jawa Tengah dan dijadikan tempat usaha pembuatan tas dan dompet dari bahan sampah plastik bekas kemasan serbuk vitamin dan supplemen.
Di rumah ini setiap hari 2 karyawan terlihat tengah asyik dengan pekerjaannya masing - masing. Di antaranya memilah- milah bungkus plastik sachet bekas menurut corak dan ukurannya. Lembaran lembar plastik yang telah tertata dilapisi dengan kain. Bahan ini kemudian dilipat selanjutnya dijahit hingga membentuk pola yang diinginkan. Setelah menempelkan perikat pada kedua sisi, maka jadilah produk kerajinan tas yang siap dipakai.
Tas ukuran besar dijual 15 ribu rupiah, sedangkan dompet hanya 5000 ribu rupiah. Nurhayati mengaku pemasaran produknya sampai saat ini hanya menghandalkan cerita dari mulut ke mulut pelanggannya.
Meski demikian penghasilan Nurhayati dari penjualan tas dan dompet dari sampah plastik ini cukup lumayan. Karena selain bisa menghidupi 2 karyawan dia mengaku dapat mengantongi laba bersih antara 1 hingga 2 juta rupiah per bulan.
Kerja keras ibu-ibu ini ternyata mendatangkan hasil. Dengan karya unik dan perpaduan warna bagus akhirnya karya-karyanya habis terjual. Padahal pembeli baru dari sekitar kantor PPLH di wilayah Sanur. Memang ada lokasi penjualan lain seperti di acara seminar.

Tak mau kalah dengan Nurhayati, ketika mau dibeli, Ketut Merti, salah satu pekerja yang setiap hari ''ngantor" di PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) Bali tidak mengizinkan. ''Sekarang nggak ada yang bisa dijual. Ini semua contoh, jadi nggak bisa dijual. Pesan dulu ya, soalnya stoknya habis," jelas salah satu ''pejuang" peduli lingkungan ini.

Merti menjelaskan setiap model karya yang dibuat wajib disisakan minimal satu untuk dijadikan contoh berikutnya. Sehingga di PPLH ada contoh masing-masing karya mereka. Jika ada yang mau beli tinggal melihat contoh itu. ''Kalau mau beli banyak lihat contoh itu. Kalau belinya cuma satu-dua langsung dikasi, itu pun jika stoknya ada," sebut perempuan asal Belong, Sanur ini.

Terus siapa pembuat desain dan pencetus ide ini? Merti mengatakan yang memiliki ide awal membuat kerajinan tangan ini adalah Ketua PPLH Bali Catur Yudha Hariani. ''Namun sekarang ibunya (Catur) lagi ada urusan di Jawa. Beberapa hari lagi kemungkinan baru datang,'' sebut Merti.

Ketika dihubungi via selular, Catur mengulas, banyak jenis kerajinan sampah plastik yang dibuatnya. Mulai tas, topi, tempat pensil, tempat make up, tempat tisu, tutup galon air minum hingga bungkus tempat penghangat nasi. Start pengerjaan kerajinan ini tahun 2007 atau sudah berjalan hampir dua tahun. ''Saya sudah memulainya sejak tahun 2007. Awalnya tanpa melibatkan pekerja," sebut perempuan yang sudah lama memimpin PPLH Bali ini.

Saat memulai kerajinan ini, dia sendiri dan beberapa anak PPLH mendesain dulu bentuk-bentuk yang akan dibuatnya. Langkah berikutnya baru menjahit. Modal mesin waktu itu hanya satu. Setelah mendapat respons positif, mesin bertambah satu lagi menjadi dua. ''Awalnya kita-kita yang memakai karya kita sendiri. Kemudian banyak tertarik dan membelinya. Hingga sekarang saya masih memakai tas dari kemasan limbah plastik," sebut dia.

Seiring bergulirnya waktu, kerajinan tangan sampah plastik semakin banyak orang tertarik. Hingga akhirnya mempekerjakan dua orang untuk menjahit tas dan pernak-pernik ramah lingkungan itu. Dua orang juga kewalahan, akhirnya dikembangkan keluar dan mempekerjakan ibu-ibu di luar PPLH Bali. Sehingga terbentuk kelompok ibu-ibu Mawar Bersemi Sanur Kaja.

Mereka ini mengerjakan pesanan-pesanan dalam jumlah banyak. Tujuannya, selain bisa dijadikan barang menghasilkan, tujuan lainnya menunda sebuah barang menjadi sampah. Artinya, dari kemasan dan bungkus barang jika tak dimanfaatkan jelas langsung menjadi sampah. Namun jika dijadikan pernak-pernik dulu akan tertunda menjadi sampah dalam kurun sampai tas dan karya lain itu rusak.

Dengan kondisi ini otomatis akan mengurangi peredaran sampai plastik di lingkungan masyarakat. ''Tujuan utamanya dari kami adalah untuk penyelamatan lingkungan," kata Catur.

Lantaran sampah plastik memang menjadi ancaman bagi kehidupan lingkungan dan manusia, bahayanya adalah jika masuk ke tanah akan merusak struktur tanah, tanah tidak subur. Selain itu akan merusak dan mencemari air, membuat keruh dan tersedimentasi.

Kalau dibakar, plastik tidak akan pernah habis. Lantaran hasil pembakaran tetap akan menimbulkan lelehan yang menempel di tanah yang juga merusak tanah. Sedangkan asap pembakaran sangat berbahaya bagi manusia. Kadang polusi dan kadang pula mengandung racun dioxin yang bisa menimbulkan beberapa penyakit di tubuh manusia, termasuk kanker.

Selain tujuan untuk penyelamatan lingkungan, Catur mengatakan jika hasil karya dengan limbah plastik itu ternyata menghasilkan karya seni. Hingga membuat berani orang membeli sehingga bernilai ekonomis tinggi. ''Banyak hal keuntungannya, mulai yang mengumpulkan bahan baku hingga yang mengerjakan juga dapat keuntungan ekonomi lumayan," jelasnya dengan suara merdu dari balik telepon.

Dari keuntungan ini tentu bisa membeli peralatan yang lebih bagus di kemudian hari. Catur menyadari selama ini pengerjaan serba manual. Seandainya peralatan sudah lebih modern lagi, tentu pihaknya berani melakukan penawaran kerja sama dengan pihak lain.

''Terus terang pemasaran selama dua tahun ini belum bisa dalam jumlah banyak. Kami masih takut kerja sama dengan pihak lain untuk memasarkan kerajinan ini ke luar. Alat-alat kami masih manual," ungkap Catur sambil tertawa kecil.

Awal idenya dari mana? Perempuan yang katanya berperawakan centil ini menjelaskan awalnya dia berkunjung ke Jogja. Tepatnya di Desa Sakunan. Di sana ada kelompok ibu-ibu memanfaatkan limbah plastik untuk kerajinan. Hasilnya bagus. Kondisi ini menggugah Catur untuk mengembangkan di Bali dengan membuat kreasi-kreasi baru dan unik. ''Bahkan saya akan mengkreasikan nanti, limbah plastik bisa untuk tikar, lapis figura hingga payung," imbuhnya.

Walaupun karyanya ini bisa dipatenkan, agar tak ditiru dan bisa mendapatkan royalti jika ada yang meniru, Catur malah belum punya rencana untuk mematenkan. Tujuan awal memang untuk menyelamatkan lingkungan.

Catur justru ingin mengembangkan kelompok-kelompok ini sampai ke desa-desa. ''Tak akan kami patenkan, malah kami ingin semua ibu-ibu mau membuat dan memakai karya-karya semacam ini. Sehingga bumi ini tak terkubur sampah, betul nggak?" ucap Catur setengah bercanda.

Lain halnya dengan perempuan yang satu ini. Pemutusan hubungan kerja bukanlah kiamat bagi Ummah Daeng Ne’nang (48). Diberhentikan sebagai karyawan dari sebuah perusahaan rotan di Makassar, Sulawesi Selatan, tujuh tahun silam, justru membawa berkah baginya. Bagi Ummah, hal ini justru awal dari sebuah kehidupan yang lebih menjanjikan.

Saat itu, pada tahun 2005, terbuka jalan baginya untuk mendirikan Yayasan Peduli Pemulung. Belakangan, bersama sang suami, Abdul Rachman Nur (60), inisiatif mendirikan yayasan itu mengantarnya menekuni dunia usaha membuat tas dari sampah plastik yang digeluti teman-teman pemulung dari yayasannya.

Ide untuk membuat tas dari sampah plastik muncul ketika Ummah menonton acara keterampilan di salah satu stasiun televisi. Dalam acara tersebut, beberapa perajin memperagakan pembuatan tas memanfaatkan plastik bekas sabun cuci piring, kecap, minyak goreng, pelembut pakaian, ataupun mi instan. Ia kepincut karena doyan berketerampilan sejak kecil.

Kendati hanya bersekolah hingga kelas III SD, anak ke-2 dari tujuh bersaudara ini memiliki bakat yang paling menonjol dibandingkan dengan kakak dan adik-adiknya. Sejak usia lima tahun, Ummah mampu menganyam seperti yang sering dilakukan sang ibu. Ia pun selalu mengisi waktu luangnya saat masih bekerja di perusahaan rotan dengan menjahit baju boneka dari benang wol.

Ummah pun tidak menyia-nyiakan peluang mengolah sampah plastik itu. Ia meminta para pemulung yang menjadi anggota yayasannya untuk memasok sampah tersebut. Iming-iming upah Rp 3.000 per kilogram (kg) ternyata mampu menarik minat pemulung yang selama ini menganggap sebelah mata sampah plastik.

”Hal ini juga berdampak positif terhadap kondisi lingkungan karena sampah plastik sulit dimusnahkan,” tutur Ummah yang tinggal di Jalan Batua Raya XIV Nomor 12, Makassar.

Ia dan sang suami pun sepakat melabeli produk mereka, ”tas sayang lingkungan”, sesuai tujuan awal keduanya untuk berperan serta menjaga kelestarian lingkungan ketimbang mencari keuntungan dari penjualan tas.

Ummah kemudian menggaet beberapa tetangga untuk mencuci sampah plastik yang menumpuk di depan rumahnya. Untuk 1 kg sampah plastik yang dicuci, Ummah mengupah mereka Rp 2.000 per orang. Sampah plastik yang sudah kering lantas dijahit menggunakan mesin jahit yang dibeli Ummah dari uang hasil patungan dengan sang suami.

Demi kelangsungan pembuatan tas ini, Ummah menyulap rumah tipe 36 milik keluarganya menjadi tempat tinggal sekaligus kantor yayasan dan tempat produksi tas. Salah satu kamar tidur berukuran 3 x 4 meter persegi dijadikan Ummah tempat menjahit tas. Dalam pembuatan tas, Ummah dibantu dua perempuan mantan pemulung yang telah diajarkan menjahit.

Pada mulanya, Ummah membuat tas sekolah dan tas jinjing yang dijual seharga Rp 40.000 per buah. Dalam sebulan ia berhasil menjual sedikitnya 50 tas. Hal itu berkat kegigihan Ummah berkeliling instansi pemerintah ataupun permukiman untuk menawarkan tas buatannya. Kala itu, omzet yang berhasil diraih Ummah antara Rp 1,5 juta-Rp 2 juta per bulan.

Tiga bulan kemudian penjualan tas sempat menurun. Ummah pun mendapat masukan untuk memperbanyak model tas yang dibuat. Salah seorang temannya sempat memberikan hadiah buku berjudul From Trash to Trashion: 25 Kreasi Limbah Plastik (2009) karya Herianti untuk memperkaya wawasan dan kreasi Ummah.

Buku tersebut ternyata menginspirasi Ummah untuk membuat beragam jenis produk dari sampah plastik, seperti tas laptop, tas bepergian (travel bag), tas kerja (untuk map dan arsip), jas hujan (untuk anak-anak dan dewasa), celemek (pelindung tubuh saat memasak), dan dompet. Produk tersebut dijual mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 100.000 per buah.

Inovasi ini membuat Ummah semakin percaya diri menawarkan produk buatannya ke instansi pemerintah. Produk tas kerja bikinannya cukup diminati dalam sejumlah seminar yang diadakan pemerintah.

”Saya cukup sering menerima pesanan 100 hingga 200 tas kerja yang saya jual Rp 25.000 per buah,” kata Ummah. Sementara untuk produk lainnya ditawarkan melalui bantuan para pemulung yang merangkap menjadi ”sales” saat mencari barang bekas sehari-hari.

Ikut pameran

Penjualan yang semakin meningkat turut mendongkrak pamor produk dari sampah plastik buatan Ummah. Ia pun mulai mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pameran industri kecil dan pameran yang berkaitan dengan produk ramah lingkungan sejak dua tahun lalu.

Saat mengikuti pameran yang diadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Selatan, Ummah mendapatkan bantuan lima mesin jahit dari Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo. Hal tersebut dimanfaatkan Ummah untuk mengembangkan usaha.

Ia pun menunjuk delapan karyawan dari pemulung yang dibina ataupun warga sekitar tempat tinggalnya untuk mengerjakan beraneka tas plastik. Dalam sebulan mereka ditarget untuk menghasilkan minimal 500 produk. Tiap karyawan mendapat upah 30 persen dari setiap barang yang terjual.

Dengan mekanisme bagi hasil itu, Ummah mampu mengantongi omzet hingga Rp 3 juta sebulan. Jumlah itu bisa lebih besar apabila ia mendapat pesanan tas kerja untuk seminar yang diadakan pemerintah daerah setempat.

Kiprah Ummah di bidang usaha akhirnya mendapatkan kepercayaan pihak perbankan. Baru-baru ini ia memperoleh pinjaman modal usaha dari Bank Sulawesi Selatan sebesar Rp 20 juta. Dana tersebut rencananya akan digunakan Ummah untuk memperkuat kegiatan usaha mengingat hingga kini produknya belum memiliki pangsa pasar yang jelas dan pasti.

”Terkadang omzet saya bisa turun hingga Rp 1 juta sebulan karena minimnya bantuan dalam memasarkan produk,” ungkap Ummah. Dia berharap peran serta Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk memperkenalkan produk sampah plastik ini ke pasar nasional ataupun internasional.

”Saya yakin respons pasar luar negeri akan positif karena yang ditawarkan produk ramah lingkungan,” tutur Abdul Rachman. Sayangilah lingkungan dengan membeli ”tas sayang lingkungan” ala Ummah ini. (fn/id/jp/km) www.suaramedia.com

Bisnis Segarnya Sari Tebu


Perkembangan bisnis waralaba semakin menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Selain permodalan awal yang ringan, bisnis waralaba juga memiliki aneka jenis usaha yang saat ini diminati masyarakat. Dengan demikian keuntungan profit pun diyakini akan cepat didapatkan mitra bisnis waralaba. Salah satu jenis usaha waralaba yang saat ini tengah naik daun adalah minuman tebu. Selain mudah dan ringan dalam permodalan, minuman tebu yang segar dan manis juga tengah digandrungi masyarakat di Indonesia.
Pardiman dari waralaba Rajanya Tebu, mengatakan, bisnis waralaba minuman olahan tebu saat ini sangat menjanjikan bagi masyarakat yang ingin membuka usaha waralaba. "Sekilas memang bisnis ini sepele tapi sangat membooming. Mudah, simpel dan tidak perlu keahlian khusus. Cukup saham dan kemudian manajerial yang baik saja," kata Pardiman saat ditemui di International Franchise, License, Businnes Concept Expo (IFRA) 2010, di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta.
Menurut Pardiman, prospek bisnis minuman tebu yang menguntungkan dapat terlihat dari banyaknya usaha sejenis yang ada saat ini. "Rajanya Tebu ini boleh dibilang salah satu bisnis minuman tebu yang banyak ditiru. Sekarang ini banyak yang membuka usaha setipe, karena memang prospek bisnis ini sangat menguntungkan," tuturnya.
Untuk memulai bisnis minuman tebu, kata Pardiman, sangatlah mudah. Dengan hanya menyediakan permodalan awal untuk menjadi mitra bisnis Rajanya Tebu, mitra bisnis ini pun nantinya hanya melakukan manajerial dan pengawasan karyawan yang dipekerjaan.
Rajanya Tebu menawarkan empat jenis gerai bagi para calon mitra usahanya. Dari yang termurah berupa gerai gerobak kaki lima dengan modal awal Rp 18.500.000 hingga yang tertinggi berupa gerai motor roda tiga dengan modal awal Rp 39.500.000 . "Mitra usaha ini akan mendapatkan semua perlengkapan seperti mesin giling, gerobak atau sepeda motornya, sampai bahan baku batang-batang tebu yang kami pasok," ungkapnya.
Setelah bergabung menjadi mitra bisnis Rajanya Tebu, menurut Pardiman, para mitra bisnis hanya terikat kontrak untuk pengadaan bahan baku batang-batang tebu seharga Rp 8.000 perbatang. "Pasokan bahan baku selalu terjamin. Sejauh ini tidak ada kendala karena kami memiliki kebun tebu seluas 1.000 hektare di Jambi. Ini sangat mencukupi untuk pasokan semua mitra bisnis," kata dia.
Para mitra usaha Rajanya Tebu pun tidak perlu khawatir dengan permodalan tersebut. Pardiman mengatakan, rata-rata mitra bisnis Rajanya Tebu sudah kembali balik modal dalam tempo sembilan bulan. "Harga pergelas Rp 4.000. Dengan asumsi umum bisa menjual 80 gelas perhari, maka dalam satu bulan sudah mencapai keuntungan Rp 4.022.000," ujarnya.
Tingginya minat masyarakat akan bisnis minuman tebu terlihat dari tingginya mitra bisnis dari Rajanya Tebu. Pardiman mengatakan, hingga saat ini Rajanya Tebu sudah memiliki mitra bisnis hingga sekitar 800 gerai se-Indonesia. "Saat ini gerai-gerai kami tersebar di Jawa, Sumatra, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Agustus nanti kami juga akan segera membuka gerai di Malaysia dan Singapura," tutur dia.
Sebelumnya krisis global membuat sebagian masyarakat waswas. Jika perusahaannya terpengaruh, berbagai perkiraan buruk bisa terjadi. Gaji dipotong atau bahkan pemutusan hubungan kerja alias PHK.

Dalam situasi ini, berbagai peluang mulai dilirik. Tak terkecuali membuka usaha sendiri atau ikut berbisnis waralaba. Berbagai peluang waralaba ditawarkan dalam pameran International Franchise License Business Concept Expo Confrence 2009 (IFRA).

Ratusan bisnis waralaba ditawarkan IFRA. Mulai dari bisnis makanan, minuman, kosmetik, obat, barang elektronik, hingga minimarket, yang kini sedang marak di Indonesia. Peserta usaha franchise ini pun tidak hanya dari dalam negeri, melainkan juga negara tetangga.

Ketua Asosiasi Franchise Indonesia, Anang Sutandar mengatakan, selain untuk membantu mengurangi pengangguran, IFRA juga ingin mencoba memberikan arahan bagi masyarakat apabila ingin berwiraswasta dan menambah penghasilan. "Bahkan penghasilannya bisa melebihi gaji sebagai karyawan," kata Anang kepada PersdaNetwork di ajang IFRA, Jakarta.

Bergabung dalam usaha waralaba tidak selalu identik dengan modal tinggi. Dengan investasi sekitar lima juta rupiah, bisnis waralaba sudah di tangan. Berbagai bisnis makanan siap untuk disuntik modal mulai dari makanan khas Indonesia seperti bebek goreng, martabak, es tebu, siomay, bakmi hingga makanan khas luar negeri seperti pizza, kebab, atau hotdog.

Tersedia juga bisnis yang butuh modal hingga ratusan juta seperti toko elektronik, minimarket, laboraturium klinik bahkan usaha pada bidang pendidikan. "Waralaba ini adalah alternatif apabila seseorang memiliki modal cukup tetapi tidak tahu harus membuka usaha apa," jelas Anang.

Terlepas dari pameran ini yang hanya memamerkan kurang dari 200 bisnis waralaba, jelas Anang, masih banyak usaha franchise lain yang sebenarnya bisa digeluti. Perkembangannya di Indonesia bahkan terbilang cukup tinggi. Bila pada 2005 hanya ada 336 franchise, hingga pertengahan 2009 telah berlipat menjadi 1.010 usaha waralaba yang terdaftar, termasuk 260 franchise asing yang menyerbu Indonesia.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu sebelumnya mengatakan, franchise di Indonesia memang masih rendah dibanding dari negara lain. Ini karena kurangnya pemahaman masyarakat akan bisnis ini. "Pemahaman masyarakat masih kurang seperti membuat model usaha berkesinambungan dan menjaga agar mutu tetap konsisten. Selain itu perbankan juga masih kurang mendukung," tandasnya.

Meski demikian, jelasnya, untuk masa mendatang pihaknya akan terus berusaha untuk mengarahkan kepada berbagai pihak untuk mendukung agar bisnis ini semakin banyak dijalankan oleh masyarakat. Patut ditunggu.

Siapkan Dana Berjalan
Setiap usaha pasti akan memberikan risiko, demikian pula dengan waralaba. Selain harapan usaha maju dan merengkuh untung maksimal, usaha franchise pasti memiliki risiko untuk bangkrut.

Usaha tersebut akan sukses bila produk disukai konsumen, sehingga menarik banyak pelanggan. Namun risiko tidak dikunjungi pembeli sama besarnya. Beberapa alasan risiko tersebut bisa terjadi antara lain karena nama dagang atau pemiliknya yang belum terkenal. Ada juga karena tempatnya yang kurang strategis.

Bila salah memilih, boro-boro bisa untung. Harta milik keluarga pun bisa habis karena usaha ini. Karenanya, ada beberapa tips untuk memulai langkah usaha waralaba.

Untuk permodalan, pengusaha harus memiliki dana atau pendapatan keluarga yang cukup untuk  menanggung biaya keluarga selain untuk modal usaha agar bisnis waralaba tidak terganggu. Sebelum memulai usaha yang besar, sebaiknya memulai dengan usaha yang kecil agar tahu benar risiko-risikonya. Dan bila berhasil, usaha yang kecil itu pun bisa ditingkatkan menjadi yang besar.

Yang paling penting adalah tidak menggunakan seluruh anggaran untuk dana investasi. Hal ini dilakukan sebagai persiapan apabila membutuhakan dana berjalan pada masa-masa selanjutnya. (fn/km/tj) www.suaramedia.com

Terarium, Taman Cantik Dalam Kaca

 
 sumber foto : kaskus

Kreativitas memang tak boleh ditawar lagi apalagi jika menyangkut urusan penghijauan. Salah satu cara kreatif untuk menyiasati adalah membuat taman cantik di lahan sempit. Namanya terarium atau seni membuat taman di dalam kaca. Bahan untuk membuat tetarium gampang dibuat. Di antaranya kompos, moss, arang kayu, pasir dan batu warna, atau kerang. 

Pada perkembangannya terarium bisa dijadikan hadiah, suvenir atau membuat penghijauan di ruang tidur, ruang makan, atau kamar mandi. Beragam pohon kecil ditanam di dalam kaca. Agar lebih indah hiasi dengan pasir atau batu berwarna-warni. "Cara menanamnya memang harus dilakukan secara khusus," kata Ani Kristanti, pembuat tetarium.

Biasanya, kata Ani, tetarium dijadikan suvenir untuk ulang tahun atau pernikahan. Tapi, ada pula yang disewa oleh perkantoran atau instansi untuk penghias atau penghijau ruangan. "Tetarium kecil dijual seharga Rp 150 ribu," ujarnya. Ani mengakui usaha pembuatan tetarium yang semula hanya untuk hobi, kini sudah menjadi bisnis menguntungkan. Terarium adalah satu kreasi tanaman hias yang unik, indah, cantik, dan inovatif. Kehadiran terarium dalam ruangan atau taman, baik di rumah, perkantoran, maupun di galeri memberikan cita warna dan suasana yang sensasional. Seolah kita memandang bola dunia yang di dalamnya terdapat alam tumbuh-tumbuhan yang subur dan indah.
Karena keistimewaan yang terdapat pada terarium ini, Kerajaan Inggris pada dinasti Victoria pernah membuat rumah kaca mini. Di dalam rumah kaca ini ditanam sekitar 65 jenis tanaman pakis dan suplir. Terarium besar ini sangat terkenal ke seluruh Kerajaan Inggris hingga menjadi model bertanam yang populer di kalangan keluarga bangsawan. Kemudian, stimulasi keindahan terarium ini mampu menyihir para bangsawan Indonesia pada tahun 45-an sehingga terarium ikut berkembang di tanah air.

Selain hal di atas, terarium memiliki keunggulan tertentu, sehingga membuat pencinta tanaman hias ikut mengembangkan terarium. Yakni di antaranya, bisa ditanam di lahan atau tempat yang sempit sekalipun, bisa dijadikan bingkisan atau hadiah buat orang lain, sebagai alternatif kemudahan bagi media penelitian sekaligus pelestarian tanaman.

Selanjutnya, bagaimana prospek bisnis terarium? Terarium memiliki banyak pasar. Pasar ini yang akan menyerap pembeli dan menciptakan rantai peluang usaha yang lebar. Selain pasar umum, baik perorangan maupun pemasaran yang terprogram, seperti demo, York shop atau kursus, juga wilayah perkantoran atau show rol, kafe, restoran, hotel, pameran, bazar, pesanan suvenir, nurseri, toko bunga, gift shop, dan pasar swalayan.

Sementara itu, membuka usaha atau membuat terarium tidak membutuhkan modal yang sangat besar. Yang diperlukan hanya keterampilan dan kesungguhan menekuni jenis usaha ini. Hasilnya, rasio keuntungan bisa diperoleh lebih dari 60 %.

Namun, bagaimana membuat terarium yang baik dan benar agar dihasilkan terarium yang menawan sesuai dengan keinginan? AgroMedia Pustaka menerbitkan buku “Membuat Terarium – Taman Mungil dalam Wadah Kaca” yang disusun oleh Anie Kristiani. Melalui buku ini Anda bisa belajar bagaimana membuat terarium, baik untuk skala pribadi maupun usaha.

Di dalam buku ini di antaranya dibahas sejarah perkembangan terarium, peluang usaha terarium, keunggulan terarium, membidik pasar, analisis usaha, memilih jenis tanaman yang tepat, memilih media tanam, dekorasi, wadah, pemeliharaan, penambahan aksesori, dan berbagai pasar terarium. Ingin "berkebun" tapi tak punya halaman? Jangan bingung. Terarium jadi alternatif bagi yang tetap ingin melakukan penghijauan di mana saja.

Terarium adalah cara menanam tanaman di dalam wadah tembus pandang atau kaca. Seperti halnya akuarium yang berfungsi memamerkan keindahan beragam ikan, terarium juga memajang satu atau lebih tanaman cantik yang disusun indah di dalamnya.
Sebenarnya, terarium sudah lama dikenal. "Tapi belakangan ini bangkit kembali karena global warming sehingga banyak orang terpicu untuk melakukan penghijauan di mana-mana," kata Evelina, Ketua Ikatan Alumni Pelatihan Pertamanan (IAPP).
"Mereka yang tinggal di apartemen dan tidak punya lahan besar, atau terlalu sibuk dan enggak sempat berkebun tapi tetap ingin melakukan penghijauan dan memiliki taman, bisa memilih terarium. Terarium pun bisa mempercantik rumah yang besar, misalnya diletakkan di atas meja ruang keluarga," kata Evelina, yang ditemani beberapa pengurus IAPP lainnya.
Namun, tak bisa sembarang tanaman dapat ditanam dalam wadah kaca. Menurut Evelina, yang cocok untuk terarium adalah jenis tanaman yang pertumbuhannya lamban dan sangat mudah dirawat. "Seperti kaktus dan sukulen yang tumbuhnya tidak terlalu besar dan tahan lama," ujarnya.
Selain sukulen dan kaktus, tanaman lain seperti Sansivieria dan Bromelia pun bisa menjadi pilihan alternatif lainnya. Jenis tanaman seperti tadi, mudah dirawat dan tidak harus disiram setiap hari.
Ketika disiram, Evelina menerangkan, airnya tak perlu langsung ke tanaman, tapi cukup ke pinggiran kacanya saja agar tanaman tak cepat membusuk. Selain itu, Evelina juga menyarankan agar terarium dikeluarkan dari dalam rumah atau ruangan seminggu sekali, agar tak cepat membusuk dan pertumbuhannya tidak terlampau cepat.
"Tapi sebaiknya jangan langsung terkena hujan atau sinar matahari. Pertama-tama, letakkan di teras saja dulu agar bisa beradaptasi dengan suasana luar ruang dan menghirup udara bebas. Setelah itu, perlahan-lahan boleh tertimpa sinar matahari."
PUNYA PENGGEMAR SENDIRI
Melihat proses perawatannya yang tak terlalu sulit, terarium pun cukup mudah dibuat sendiri. Kendati demikian, Eveline menambahkan, biaya yang dibutuhkan untuk membuat satu terarium sangat tergantung pada pemilihan jenis tanaman dan wadah kacanya.
Modal membuat terarium, ungkapnya, bisa dimulai dari Rp 50 ribu hingga jutaan rupiah. Semakin eksklusif bentuk wadah kacanya, tentu biaya membuat terarium akan semakin mahal.
Uniknya lagi, meski hanya ditempatkan di dalam wadah terbatas, terarium juga tetap menggunakan media tanam seperti arang, kompos, dan zeloit. "Ketiga media tanam ini sebaiknya jangan dicampurkan, tapi letakkan secara terpisah-pisah agar makin terlihat gradasi warnanya. Media arang harus diletakkan di bagian paling bawah agar bisa meresap air siraman," saran Evelina.
Meski mudah, menurut Evelina, proses yang paling sulit dalam membuat terarium adalah ketika harus menempatkan komposisi tanaman di dalam wadah. Sebab, akan dibutuhkan kesabaran yang cukup tinggi.
Sebagai langkah awal, tanaman ditata sesuai dengan wadahnya. Usahakan agar tanaman tidak diletakkan berdesakan. Perbedaan tinggi tanaman pun sebaiknya proporsional. Sesuaikan antara tanaman yang tinggi dengan yang lebih rendah.
Bagi Evelina, disitulah seninya membuat terarium, bagaimana memposisikan tanaman dan menyesuaikan tinggi rendahnya. Yang patut diperhatikan, tanaman jangan sampai melewati mulut wadah. Jika wadahnya cukup besar, bisa letakkan pot kecil di dalamnya. "Variasinya, sangat tergantung pada yang membuatnya."
Jika semuanya tampak mudah dilakukan, lalu adakah kendala dalam membuat terarium? Menurut Evelina, kendalanya hanya satu, yaitu sulitnya mencari tanaman yang cocok dan pas untuk terrarium. "Biasanya, kendala muncul ketika harus pemilihan warna tanaman," sambung Tri, salah satu anggota IAPP, yang juga ahli kompos.
Terarium, lanjut Tri, memiliki kelas tersendiri dan tidak semua orang bisa menyukainya. "Jujur saja, lebih banyak mereka yang secara ekonomi berada di kelas atas yang mengerti tanaman dan seni. Jadi, mereka bisa lebih tahu keindahan terarium itu ada di mana," tukasnya.
MEMBUAT TERARIUM SENDIRI
Bahan:
1. Kayu untuk mengorek tanah
2. Sumpit untuk menjepit tanaman
3. Tisu yang sudah dililit pada sebatang kayu kecil, dan diberi alkohol 70%
4. Sedotan untuk meniup kotoran di dinding wadah
5. Corong untuk memasukkan media tanam
6. Sendok plastik untuk meratakan media tanam
7. Kuas untuk membersihkan tanaman yang terkena media tanam
8. Sekop kecil untuk menuang media tanam dan batu hias
9. Gunting
10. Semprotan air berujung lancip (jangan pilih yang spray, karena akan merusak tanaman)
11. Media tanam: arang (potong kecil-kecil), moss (disemprot air dulu), kompos (yang sudah steril), zeolit
12. Batu hias warna warni
Cara Membuat
1. Siapkan wadah kaca, bersihkan dengan alkohol2. Masukkan arang ke bagian dasar wadah, lalu moss, kemudian kompos.
3. Masukkan tanaman yang diinginkan satu persatu. Jika akarnya panjang, potong sedikit, lalu cuci bersih.
4. Jika ada kotoran yang melekat di pinggir kaca, bersihkan dengan kuas.
5. Masukkan zeolit untuk menutupi media tanam, dengan menggunakan corong. Fungsi zeloit ini agar terarium terlihat lebih artistik.
6. Tambahkan batu hias beragam warna dan bentuk.
7. Jika ada kotoran menempel pada tanaman, tiup dengan sedotan atau bersihkan dengan kuas.
8. Semprot kaca dengan air hingga zeolit basah dan berubah warna. Cara ini sekaligus untuk menyiram tanaman.
9. Terarium siap diletakkan di tempat yang diinginkan.
MODAL YANG DIBUTUHKAN
Booming terarium yang kini tengah terjadi, sangat mungkin akan menjadi lahan bisnis yang menghasilkan. Tertarik melirik bisnis terarium? Berikut kisaran modal yang harus dikeluarkan untuk membuat terarium di wadah kecil:

Media tanam (arang, moss, kompos, zeolit) Rp 10.000
Wadah Rp 20.000
Tiga buah tanaman sukulen Rp 50.000
Batu hias Rp 10.000
Batu putih Rp 5.000
---------------- +
Jumlah Rp 95.000






sumber foto : http://gugling.com/
Catatan:
· Batu hias dan putih biasanya sudah dijual per kantong plastik. Begitu juga dengan media tanam. Jadi, materi tadi bisa dipakai untuk membuat beberapa terarium sekaligus.
· Harga wadah sangat tergantung pada ukurannya (besar atau kecil), juga pemilihan tanaman. Makin besar ukuran wadahnya, makin besar pula biayanya. Makin banyak tanamannya, makin mahal juga biayanya.
· Modal di atas belum termasuk biaya transportasi pembelian bahan-bahan. (fn/id/tn/klik pada liputan 6) www.suaramedia.com

Waralaba Asing Ancam Bisnis Domestik

Jumlah lisensi usaha waralaba asing di Indonesia mencapai 980 jenis dengan omset penjualan sekitar Rp100 triliun per tahun, diharapkan menjadi perhatian karena bila tidak dibendung dikhawatirkan melemahkan usaha domestik.

Dari total omset itu 60 persennya dikuasai oleh pengusaha dalam negeri, sedangkan 40 persennya dikantungi para pengusaha luar negeri, kata Ketua Komite Tetap Waralaba dan Lisensi Kadin Indonesia Amir Karamoy saat peresmian restoran siap saji Toni Jack's Indonesia di Solo.

"Melalui usaha restoran waralaba seperti ini kita harus bayar lisensi mencapai 347 juta dolar Amerika Serikat per tahunnya, dan pembayaran lisesni ini hampir setiap tahun terus naik rata-rata mencapai tujuh persen," katanya.

"Apa yang dilakukan restoran siap saji Toni Jack`s yang menggandeng salah satu perusahaan tekstil terbesar di Solo yaitu PT Sri Rejeki Isman (Sritex) untuk membuka usaha waralaba nasional ini sangat tepat untuk membendung masuknya usaha sejenis dari luar negeri," paparnya.

PT Sritex yang diresmikan tahun 1992 diatas tanah seluas 65 hektar menyerap tenaga kerja 20.000 orang dengan investasi Rp300 miliar, kata Presiden Komisaris PT Sritex H.M.Lukminto yang perusahaannya tengah merambah bisnis makanan.
PT Sritex dalam usahanya sebenarnya juga sudah memiliki Restorant Diamond dan sekarang dikembangkan lagi melalui restorant siap saji dengan Toni Jack`s Indonesia.

Restorans Toni Jack`s Indonesia yang berada di Solo adalah gerai ke-13 dan dalam tahun ini akan ditambah lagi enam gerai di Jakarta, Surabaya, dan Malang, kata Dirut PT Toni Jack`s Indonesia Didit Permana.

Pembukaan gerai baru di sejumlah kota tersebut diperkirakan akan menyedot investasi Rp3,5 sampai Rp4 miliar dan diharapkan selesai tahun ini.

Sebelumnya diberitakan, omset usaha waralaba Indonesia mencapai Rp85 triliun per tahun dan uang usaha hasil ini sebagian besar lari ke luar negeri karena pemilik modal kebanyakan orang asing, kata Ketua Dewan Pengarah Waralaba dan Lisensi Kadin Amir Karamoy di Solo.

"Orang asing dalam usaha ini memang hanya menguasai lima persen, tetapi dengan modal yang besar maka omset yang dikuasai juga besar yaitu mencapai 60 persen lebih," kata Amir Karamoy usai penandatangananan kerjasama PT Sritex dan PT Toni Jack`s, Solo.

Dia mendesak Kementerian Perdagangan bertindak secepatnya dengan membuat aturan-aturan agar usaha sistem waralaba tidak dimonopoli oleh segelintir orang.

"Ya kami telah mengusulkan pembuatan peraturan ini kepada Kementerian Perdagangan, tetapi sampa sekarang juga belum ada hasilnya," jelasnya.

Menurutnya, untuk mencegah monopoli usaha maka sebaiknya setiap pengusaha asing yang akan menanamkan modal harus bekerjasama dengan pengusaha dalam negeri.

"Saya berkeyakinan kalau pemerintah tidak cepat-cepat mengeluarkan aturan tersebut, maka usaha seperti ini dalam waktu dekat akan dikuasai pemodal asing, dan sekarang saja dampaknya sudah dirasakan," katanya.

Menyinggung kawasan perdagangan bebas China-ASEAN (CAFTA), Amir Karamoy mengatakan, beberapa waktu lalu sudah ada sembilan pengusaha asal RRC yang menanyakan persyaratan pembukaan usaha waralaba di Indonesia.

"Para pengusaha asal China memang tampaknya juga tertarik mengenai usaha model waralaba ini, karena mereka juga telah menanyakan mengenai persyaratan dan potensi yang ada," katanya.

Restoran waralaba Toni Jack`s Indonesia sekarang sudah mempunyai 12 cabang yang berada di Jakarta, Bandung dan Surabaya dan untuk tahun ini diharapkan akan dibuka lima cabang di kota-kota besar lainnya, kata Presiden PT Toni Jack`s Surya B.Sulistya.

Sementara iti, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengupayakan 500 waralaba lokal berekspansi ke luar negeri. Saat ini, telah sepuluh waralaba yang telah mengembangkan jaringannya hingga luar negeri.

“Terdapat 900 pewaralaba lokal. Adapun jumlah terwaralaba mencapai 100 ribu. 10 waralaba telah memasuki pasar luar negeri seperti Sour Sally, AutoBridal, dan JCo,” ujar Ketua Komite Tetap Waralaba dan Lisensi Kadin Amir Karamoy di Jakarta.

Menurut dia, makanan dan minuman adalah sektor paling potensial yang layak didorong merambah pasar ekspor. Sebab, kedua sektor itu mengalami pertumbuhan tinggi hingga 40 persen setiap tahun.

Jumlah waralaba sektor itu pun mencapai 50 persen dari total seluruh waralaba. “Sektor makanan minuman juga yang paling sering mengalami kegagalan. Karena ketidaksiapan, maka waralaba di sektor ini banyak mati,” kata Amir.

Untuk mencapai target dan meningkatkan ketahanan usaha waralaba dari kebangkrutan, maka Kadin akan melakukan penilaian usaha waralaba terbaik. Waralaba terbaik ini akan diajukan untuk diberi pelatihan dan diusulkan menerima bantuan dari Indonesia Eximbank.

Dirjen Bina Usaha dan Pendaftaran Perusahaan Kementerian Perdagangan Dede Hidayat mengatakan sudah saatnya waralaba lokal mengembangkan pasarnya di luar negeri. Apalagi ekspansi waralaba di luar negeri bisa meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. “Waralaba adalah usaha yang bagus dan bisa memperoleh keuntungan yang lebih tinggi.

Banyak waralaba asing yang telah dibeli oleh pengusaha Indonesia,” kata Dede. (fn/a2nt) www.suaramedia.com

Kurang Produktif, Dilema Kopi Indonesia Yang Diminati Pasar Internasional

Kopi adalah minuman yang berasal dari pengolahan dan ekstraksi tanaman kopi. Kata kopi berasal dari bahasa Belanda koffie dimana pada masa penjajahan Belanda, banyak perkebunan kopi kita dan hasilnya di bawa ke negeri Belanda untuk di perjual belikan, sehingga minuman kopi merupakan salah satu minuman yang di gemari di Belanda.
Kopi terdiri dari dua jenis yaitu robusta dan arabika. Disebut arabika, karena kopi tersebut dibawa oleh saudagar Arab dari Afrika ke negara Arab dan Timur Tengah untuk di budi dayakan.

KOPI DI INDONESIA
Kopi merupakan unsur komoditas ekspor Indonesia yang cukup diminati pasar Internasional. Indonesia merupakan penghasil kopi  ke empat terbesar, setelah Brasi, Vietnam dan Kolombia.

Kopi-kopi dari Indonesia, banyak diminati oleh pasar Internasional seperti kopi Arabika Toraja, Robusta Lampung, Kopi Sidikalang, Kintamani, Mandailing Tapsel, Kopi Lintong, Luwak Toraja dan Prianger. Seperti kopi Luwak, menjadi kopi favorit di China.

Kopi Indonesia, termasuk menjadi primadona pasar kopi Internasional, tetapi kebanyakan produsen kopi Indonesia tidak mampu memasok kopi ke pasar internasional, karena kadangkala kopi dari Indonesia tidak dapat memenuhi permintaan pasar Internasional, karena mungkin faktor terganggunya penanaman dan pemanenan oleh cuaca yang kadangkala tidak mendukung seperti curah hujan yang tinggi, sehingga menggangu penanaman dan pemanenan tanaman kopi.

Karena kebutuhan kopi dalam negeri saja, kadangkala petani atau produsen kopi kita tidak dapat memenuhinya. Produksi kopi yang ditargetkan sebesar 750.000 - 800.000 ton tidak terpenuhi dan diperkirakan hanya 500.000 ton saja pada tahun 2010 ini.

Kini tantangan bagi Indonesia untuk menjawab permasalahan ekspor kopi yang kian meredup karena menyusutnya cadangan produksi akibat cuaca yang tidak bersahabat di Indonesia.

Jika di cermati penurunan produksi, karena sistem penanaman, pemanenan dan produksi masih bergantung terhadap kondisi cuaca. Mode produksi yang bersifat alami dan tradisional ini, menjadi penghambat untuk menjawab permasalah akan faktor alam. Karen itu perlu segera sistem produksi ini diperbaharui dengan mempergunakan teknologi yang berbasiskan bukan kepada alam.

Permasalahan kopi nasional ini diharapkan dapat diselesaikan dan jangan sampai terus berlanjut dan menenggelamkan pasar kopi Indonesia di pasar internasional. Pemerintah diharapkan dapat mendukung pengembangan spesial terhadap kopi-kopi yang memiliki keunggulan kompetitif karena memiliki cita rasa yang khas dan digemari oleh masyarakat Internasional. Juga diharapkan Pemerintah dapat mendukung kopi-kopi yang memiliki citra khas daerah seperti kopi Takengon ( Aceh ), Sumut ( Sidikalang dan Mandailing ), Sulawesi Selatan ( Toraja ), Bali ( Kintamani ), Papua ( Baliem ) dan Jawa ( Luwak ).


Anda tertarik untuk menggelutinya?
Sumber : - wikipedia Indonesia

Peluang Usaha Aneka Cemilan Dari Tanaman Liar

BANYUWANGI (Berita SuaraMedia) - Tanaman liar yang biasa tumbuh di pekarangan rumah, seperti cangkokan, pakis, dan sirih kini bisa dimanfaatkan untuk camilan. Termasuk juga bonggol pohon pisang, tak harus terbuang percuma.

Di tangan Pinisrih, 45 tahun, berbagai tanaman liar itu bisa jadi kripik yang enak di lidah. Selain sehat, Pinisrih membuktikan tanaman-tanaman itu bisa jadi peluang bisnis menggiurkan.

Pinisrih memproduksi camilan itu di rumahnya yang bergaya limasan seluas hampir satu hektar, di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur. Ia mempekerjakan 11 karyawan yang berasal dari sekitar rumahnya.

Sejauh ini ibu dua anak itu sudah mampu mengeluarkan puluhan produk camilan dari tanaman liar itu. Ada kripik sirih, pakis, daun mangkuk, kemangi, bayam, daun luntas, serta kerupuk bonggol pisang.

Daun-daunan itu digoreng kering bersama adonan tepung. Rasanya? Kurang lebih sama seperti saat Anda ngemil peyek. Namun, rasa gurih itu ditambah dengan rasa tiap-tiap tanaman. Sebut saja, bayam, ya rasa bayamnya akan tetap berasa di lidah. Yang esktrem adalah kripik sirih. Rasa sirihnya lebih kuat, sehingga serasa minum jamu.
Ibu yang mengaku hobi memasak ini, memulai usaha makanan sejak 1995 lalu dengan membuka pesanan kue basah, seperti donat dan cake. Setahun berikutnya, ia membuat kue-kue kering semacam pastel dan bagiak. Bagiak adalah jenis camilan khas Banyuwangi yang adonan utamanya dari tepung terigu.

Usaha istri Slamet Riyadi ini semakin berkembang saat ia mulai memproduksi kerupuk bonggol pisang. Barangkali camilan ini terdengar aneh, mengingat bonggol pisang tergolong limbah.

Ide ini muncul, ungkap sarjana pendidikan sejarah ini, dari sebuah pohon pisang yang pernah tumbuh di halaman rumahnya. Saat itu ia berpikir, bagian apa saja dari tanaman multi fungsi itu yang belum dimanfaatkan. Pikirannya langsung tertuju ke bonggol pisang, yang selama ini hanya teronggok di tempat sampah begitu pohon itu ditebang.

Mula-mula bonggol pisang akan dibuat keripik. Setelah dipotong lebar-lebar, dicelupkan ke adonan, lalu digoreng. Namun hasil uji pertama ini gagal. "Rasanya aneh, tidak nyaman," ujarnya.

Perempuan yang pernah menjadi guru sekolah dasar ini tidak patah semangat. Ia mencoba mengkombinasikan bonggol pisang dengan tepung tapioka. Namun bonggol pisang harus dihaluskan sebelum dicampur dengan tepung dan rempah dapur. Adonan kemudian dicetak, dan dijemur hingga kering. Setelah itu digoreng dengan minyak panas hingga mengembang. Jadilah kerupuk bonggol pisang yang akhirnya meroketkan nama Pinisrih di Banyuwangi.

Perempuan berjilbab ini terus berinovasi untuk menghasilkan camilan yang unik dan langka. Tahun 2008, ia membuat kerupuk lidah buaya. Sementara, keripik tanaman liar baru diproduksinya tahun 2009 lalu.

Menurut Pinisrih, berbagai daun-daunan itu ia beli di pasar dekat rumahnya. Untuk membuat kripik bayam, misalnya, ia biasanya membeli 50 ikat bayam seharga Rp 20 ribu. Lima puluh ikat bayam itu bisa jadi 30 bungkus kripik yang masing-masing beratnya 150 gram.

Berbagai kripik itu rata-rata dijual Rp 5 ribu per bungkus. Pasarnya sudah menjangkau Kalimantan, Sumatra, Jakarta, dan Bali. "Alhamdulillah omzetnya sudah Rp 450 ribu per hari," kata Pinisrih, akhir pekan lalu.

Namun, Pinisrih bukan tipe wirusaha yang pelit. Ia sering membagikan kiat dan resep usahanya itu ke warga sekitar rumahnya. Ia juga kerap diundang menjadi pelatih usaha kecil menengah yang biasa digelar Pemerintah Banyuwangi atau organisasi wanita.
Bonggol pisang, biasanya oleh masyarakat hanya akan dibuang setelah diambil buah pisangnya. Namun seperti Pinisrih, ditangan ibu-ibu di Dusun Polaman, Desa Argorejo, Sedayu, Bantul, bonggol-bonggol pisang diolah menjadi makanan berupa kripik.
Dikatakan Sagiyem (50 tahun) salah satu pembuat keripik bonggol pisang yang masih bertahan hingga sekarang, bonggol pisang jenis kapok dan kluthuk mempunyai kualitas yang baik untuk diolah. Meski bahan bakunya berasal dari pohon pisang bagian akar, tapi keripik ini tetap renyah dan tidak terasa pahit. “Orang yang belum tahu tentu akan mengira bahwa panganan tersebut terbuat dari ketela ataupun sejenis umbi-umbian,” katanya.
Cara mengolahnya pun cukup mudah. Bonggol pisang dikuliti kemudian dipotong-potong sesuai ukuran lalu cuci dengan air supaya getahnya hilang. Bumbunya terdiri bawang putih, ketumbar, kemiri, kencur dan daun jeruk nipis diiris lembut. Semua bumbu tersebut dihaluskan kemudian campur dengan tepung beras, santan dan telur untuk dibuat adonan.
Campurkan bonggol pisang yang sudah dicuci bersih ke dalam adonan sedikit demi sedikit. Selanjutnya goreng hingga berubah warna menjadi coklat. Setelah matang keripik bisa langsung dikemas dalam plastik atau ditambah bumbu dengan berbagai rasa.
Menurut Sagiyem menggoreng keripik ini membutuhkan waktu yang cukup lama, karena bahannya basah dan harus membutuhkan minyak dalam volume banyak. “Dalam proses pengolahan saya tidak menggunakan penyedap rasa dan bahan pengawet sebagai gantinya saya ganti dengan garam. Asalkan penyimpanannya benar, keripik ini bisa awet satu bulan. Satu bonggol ini bisa menjadi satu kilogram keripik dan per kilonya dihargai Rp. 30.000,” ungkap Sagiyem saat ditemui di kediamannya di Dusun Polaman.
Mengkonsumsi keripik ini tidak perlu takut keracunan karena sudah mendapat izin dari Depkes. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, bonggol pisang memiliki kandungan kalori, protein, karbohidrat, fosfor, zat besi, vitamin B dan C. Hasil olahannya juga mengandung serat tinggi sehingga bagus untuk pencernaan.
Bonggol pisang tua juga mengandung amilum, karena itu pemanfaatan bonggol pisang ini bisa menambah nilai pohon pisang setelah pisang sudah dipanen. Amilum juga mengandung gizi yang cukup sehingga dapat dikonsumsi dan menjadi alternatif sumber makanan masa depan.
“Bahannya juga sangat mudah didapat tinggal ambil di kebun, selain alami juga menyehatkan. Proses pengolahan juga sangat mudah,” kata perempuan yang juga memberi pelatihan di wilayah Bantul dan Kulon Progo ini.
Keripik bonggol pisang dengan aneka rasa bisa menjadi peluang bisnis yang cukup tinggi jika diolah dengan benar dan dipasarkan secara tepat. Potensi pasar yang luas dan ketersediaan jumlah bahan baku yang melimpah yang ada di masyarakat akan menjadi nilai tambah bonggol pisang. Oleh karena itu hendaknya dimanfaatkan oleh pengusaha kecil dan petani tanaman pisang guna menambah pendapatan dan menjadikan keripik ini menjadi kuliner khas Bantul. (fn/tm/ph) www.suaramedia.com

Kerajinan Kulit Kerang Rambah Pasar Internasional


Di tangan Nur Handiah Jaime Taguba, kulit kerang simping atau capiz shell tak lagi hanya sampah. Dengan kreativitasnya, kulit kerang yang bertebaran di pantai Cirebon, Jawa Barat, itu menjadi berbagai perkakas bernilai dollar AS. Pemilik Perusahaan Multi Dimensi Shell Craft ini yang mampu membawa kulit kerang pantura menembus dunia.

Pasar kerajinan kulit kerang di Eropa dan Amerika Serikat yang sebelumnya hanya dikuasi Filipina telah ia jajaki. Jerman, Spanyol, Italia, Inggris, Jerman, Polandia, Bulgaria, Rusia, dan Amerika Serikat menjadi negara-negara tujuan ekspornya selama ini.

Setiap bulannya perusahaan yang ia pimpin bisa mengirim sekitar dua kontainer kerajinan ke pasar internasional. Sebuah volume ekspor yang tidak kecil bagi pengusaha yang memulai usaha dari nol ini.

Kesuksesan Nur itu berawal dari kejeliannya melihat peluang. Awalnya perempuan kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, sekitar 49 tahun yang lalu itu memanfaatkan tumpukan kulit kerang untuk diekspor ke Filipina pada tahun 2000.

Kebetulan ibu dari lima anak ini mempunyai relasi dengan para perajin kulit kerang di tanah kelahiran suaminya, Jaime Taguba, di Filipina.
”Awalnya hanya menyuplai bahan baku saja. Kebetulan pembuatan kerajinannya ada di Filipina. Jadi, kami memasok bahan bakunya,” kata Nur di bengkel kerjanya.

Meski sudah mampu mengurangi sampah pantai dan ikut terlibat dalam menghidupi warga sekitar, termasuk nelayan, Nur tidak ingin berhenti di titik itu.

Menurutnya kerang yang ia kirimkan seharusnya bisa lebih berharga lagi jika ada nilai tambahnya. Akhirnya ia mulai menjual bahan baku dengan kondisi lebih baik lagi, yakni yang sudah dibersihkan. Dari hasil jual kulit kerang bersih itu, ia bisa mendapatkan hasil yang lebih dan bisa mempekerjakan lebih banyak orang.

Dalam perkembangannya, Nur pun berinisiatif menggeluti industri kerajinan sendiri. Dibantu sang suami, Nur mengawali kreativitasnya dalam mengolah kulit kerang menjadi kap lampu di bengkel kerjanya di Astapada, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon.

Mulanya hanya jenis lampu gantung, lalu berkembang menjadi berbagai macam produk lain dengan model dan ukuran. Lampu duduk, misalnya, ada yang model berdiri serta ditempel di dinding. Kesemuanya menggunakan bahan kulit kerang, terutama kerang simping yang diperolehnya dari para nelayan di pantura.

Dari sekadar lampu itu, hasil karyanya berkembang lagi menjadi furnitur. Meja rias dengan berbagai bentuk yang unik dan glamor, meja tamu, hingga kursi santai. Inovasinya terus mengalir hingga kemudian muncul dinding berornamen kerang hingga lantai keramik dari kerang. Perhiasan mulai dari gelang, kalung, hingga anting pun tak luput dari bidikannya.

Bahannya pun tak lagi hanya dari kerang simping, tetapi juga dari kerang dara atau kerang lain yang selama ini juga hanya menjadi sampah dan terbuang begitu saja di tepi pantai. Sesuatu yang diyakini juga terjadi di seluruh wilayah Indonesia, negara dengan lebih dari 17.000 pulau ini.

Dengan sentuhan seni dan kreativitas, sampah kulit kerang yang awalnya tak berharga itu kini berubah menjadi perkakas cantik dan glamor yang digemari masyarakat, terutama di Eropa.

Tujuh ruang pamernya di Cirebon, Bali, dan Jakarta kini penuh dengan berbagai macam hasil karya kerangnya. Bahkan, bisa dikatakan hanya menggambarkan sedikit dari karya yang telah ia buat.

Usahanya juga telah mengangkat perekonomian warga di sekitarnya. Jumlah karyawan di bengkel kerjanya kini tidak hanya 60 orang seperti saat ia memulai karier sebagai pengekspor kulit kerang, tetapi berkembang menjadi 500 orang. Mereka rata-rata adalah kaum perempuan dan ibu-ibu di sekitar pusat kerajinannya, yang awalnya tidak bekerja. Kini perekonomian keluarga mereka terbantu.

Kuncinya di kreativitas

Kreativitas selama ini memang menjadi kunci yang selalu dipegang Nur Handiah. Selama ini saingan berat bisnisnya adalah para perajin dari Filipina yang telah lebih dulu terjun dalam industri kulit kerang.

Nur memang sempat menyewa desain khusus. Namun, ia akhirnya lebih memilih belajar mendesain sendiri karena selama ini desainnya ternyata juga bisa diterima di pasaran internasional.

Bukan hal yang mudah menciptakan barang yang laku di pasaran. Demi sebuah ide, Nur harus meluangkan waktu untuk belajar, membuka wawasan, membaca berbagai rubrik desain, dan menyempatkan diri untuk berkontemplasi, bahkan survei.

Promosinya dalam mengenalkan kerajinan kulit kerangnya juga tak terbatas di dalam ruang pamer. Ketika harus bertemu dengan orang lain, perempuan yang selalu berpenampilan rapi ini mengenakan berbagai pernak-pernik dari kulit kerang, mulai dari aksesori hingga tas tangan. Semuanya agar langsung diketahui orang lain. Bahkan, rumahnya pun berhias kulit kerang.

Ia juga memutar otak untuk bisa membuat barangnya tetap terjangkau di pasaran. Dengan trik desain tertentu, sebuah sofa berhiaskan kulit kerang bisa berharga lebih murah dibandingkan dengan sofa yang dibuat oleh perajin dari Filipina. Dengan berbagai jalan itulah ia mampu bersaing dengan perajin luar negeri lain meski baru saja memulai bisnis sepuluh tahun lalu.

Nur mengakui, bisnisnya memang sempat surut ketika dunia digoyang krisis ekonomi akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009. Meski demikian, pasarnya tidak mati.

Permintaan dari Amerika Serikat memang berkurang, tetapi Eropa tetap memberikan tempat bagi kerajinannya. Kini pasar kerajinannya di Amerika Serikat berangsur-angsur pulih.

Di dalam negeri sendiri, kerajinan kulit kerang belum banyak ditiru oleh perajin lain. Padahal, bahan baku sangat mudah didapati. Nur tidak pernah kesulitan mendapatkan 60 ton kulit kerang setiap bulan untuk bahan bakunya. ”Mungkin orang mengira ini kerajinan dari sampah sehingga kurang menarik, mungkin juga karena keuntungannya kecil,” katanya merendah.

Meski demikian, Nur mengaku tetap setia pada kulit kerang. Menurutnya, yang penting bukan dari mana bahannya, tetapi jadi apa hasilnya. Bagi Nur, sampah bisa menjadi apa saja tergantung dari cara merawatnya. Jika dibuang, akan menjadi sampah. Namun, jika dirawat, bisa lebih berguna, misalnya kulit kerang bisa dinilai dalam dollar AS seperti apa yang telah ia lakukan.

Tak hanya Nur Handiah, kerajinan yang menggunakan bahan baku kulit kerang Kabupaten Cirebon juga banyak dipasarkan ke Spanyol karena permintaan barang tersebut di negeri itu cukup tinggi.
Ekspor kerajinan kulit kerang ke Spanyol antara dua hingga empat kontainer per bulan, kata Kadinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon Drs. Haki MSi didampingi Kabid Perdagangan dan Promosi Maman Suparman kepada wartawan di Sumber (Kabupaten Cirebon).
Ia mencontohkan, Januari lalu ekspor kerajinan kulit kerang ke Spanyol sebanyak empat kontainer senilai US$34,688,93 dan pada Februari hanya dua kontainer senilai US$43,977.27.
Ekspor Pebruari tampaknya menurun, tetapi nilainya jauh meningkat. "Itu disebabkan kualitas barang ekspor itu menunjukkan nilai yang tinggi," katanya.
Maman menambahkan, kerajinan kulit kerang di Kabupaten Cirebon tersebut bahan bakunya berasal dari Surabaya, Bali dan NTB.
Pengrajinnya pun berasal dari Palembang. "Jadi Kabupaten Cirebon tersebut sangat kondusif untuk mengembangkan kerajinan seperti kulit kerang," katanya.
Berbagai kerajinan kulit kerang yang diekspor tersebut seperti hiasan pintu, gorden dan hiasan lainnya.
Mengenai bahan baku tampaknya tidak mengalami kesulitan karena kulit kerang ada sepanjang tahun, sehingga tiap bulan bisa memenuhi permintaan importir luar negeri.
"Kerajinan kulit kerang itu agaknya bisa dilakukan setiap saat dan tidak bergantung pada musim," tambahnya.
Begitu juga dengan di Bandung, Bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki kreativitas yang mumpuni. Berbagai produk hasil kreasi bangsa Indonesia telah banyak dihasilkan, bahkan terkadang diakui luas oleh masyarakat dunia.
Melalui kreativitas itu, muncul ide-ide baru nan segar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, seperti halnya yang dilakukan oleh Aditya Prima.
Berkat kreasinya, Aditya mampu menyulap kulit kerang menjadi produk yang bernilai ekonomi tinggi. Di tangannya, kulit kerang tak lagi hanya menjadi limbah laut yang tidak ada harganya.
Beragam produk kerajinan dari kulit kerang telah mampu dihasilkannya, mulai dari hiasan dinding, kap lampu, tempat tisu, sampai beragam bentuk kerajinan lainnya.
Aditya merintis usaha bersama sang kakak, Ade Padilah. "Usaha ini merupakan usaha keluarga," ujar Aditya kepada SH di sebuah pameran kerajinan di Bandung belum lama ini.
Telah 20 tahun lamanya Aditya dan Ade merintis usaha ini. Belum banyaknya produk kerajinan yang menggunakan bahan baku kulit kerang menjadi pertimbangan keduanya terjun ke kerajinan kulit kerang.
Padahal, sebagai negara maritim, Indonesia memiliki potensi kerang yang cukup besar. Dan, kulit kerang tersebut masih dianggap sebagai limbah laut yang belum ada nilai ekonomisnya.
Dengan dibantu lima pekerjanya, Aditya mengolah kulit kerang menjadi produk bernilai ekonomis tinggi di bilangan Bekasi Timur. Menurutnya, produk kerajinan kulit kerangnya dijual dengan harga berkisar antara Rp 15.000-450.000.
Produk kerajinan kulit kerang ini telah merambah pasar seluruh Nusantara. "Ekspor belum dilakukan karena terkendala bahan baku," ungkap Aditya. Permintaan ekspor memang mulai diterima oleh Aditya, seperti ke Amerika Serikat dan Dubai, tetapi sayangnya permintaan itu tidak dapat dipenuhi.
Bahan baku, terutama pasir pantai yang terbatas, menjadi kendalanya. Aditya menyebutkan, pasir pantai dibutuhkan sebagai variasi dari produk kerajinan kulit kerangnya.
Pasir pantai yang dipergunakan jenisnya berbeda dibandingkan pasir pantai kebanyakan. Pasir pantai ini harus didatangkan dari Nusa Tenggara Barat (NTB).
Volume pasir pantai dari NTB sangat terbatas. Hal itulah yang menjadi kendala Aditya bisa memenuhi permintaan ekspor. Kalau untuk bahan baku kulit kerang, tidak ada masalah. Selalu ada stok yang mencukupi," timpal Aditya. Kulit kerang diperoleh dari nelayan di Cilacap, Pangandaran, maupun Palabuhan Ratu.
Butuh Satu Truk
Setidaknya setiap seminggu sekali dibutuhkan sekitar satu truk kulit kerang. Kulit kerang yang dipergunakan pun berasal dari berbagai jenis. Setiap hari, ia mampu menghasilkan sedikitnya satu jenis kerajinan kulit kerang. Kap lampu merupakan produk kerajinan yang pengerjaannya membutuhkan waktu lebih lama, yaitu antara 2-4
hari.
"Kami selalu berusaha membuat model-model terbaru," ujar pemuda yang hanya mengenyam pendidikan hingga SMA ini. Oleh karenanya, diperlukan ide-ide kreatif untuk menghasilkan model terbaru.
Aditya sadar betul tanpa model-model terbaru, produk kerajinan kulit kerangnya akan ditinggalkan oleh konsumen. Terlebih saat ini jumlah perajin kulit kerang sudah semakin banyak di Indonesia.
Persaingan yang semakin ketat inilah yang membuat Aditya dituntut untuk selalu bisa berkreasi. Sebab, hanya dengan kreativitas kulit kerang tetap mempunyai nilai ekonomis tinggi yang diminati di pasaran.
Jepara pun tak ketinggalan. Usaha kecil kerajinan kulit kerang di pesisir Pantai Kartini, Jepara, Jawa Tengah, banyak diminati warga. Di antaranya cermin dari kerang, lampu, asbak, serta pernak-pernik lainnya. Maklum dari usaha modalnya relatif murah ini, pengrajin meraup keuntungan besar. Omzetnya mencapai Rp 5 juta per bulan.

Usaha itu muncul berawal dari rasa prihatin warga terhadap sampah kerang di pinggiran pantai. Wignyo, seorang pengrajin kerang kemudian berusaha mengolah sampah kerang menjadi sesuatu yang menghasilkan. Tak sia-sia. Kini pesanan berdatangan di antaranya dari Yogyakarta, Bali, dan Jakarta. (fn/km/kp/bv/klik kantor berita liputan6) www.suaramedia.com

Madu Tembus Pasar Internasional


Madu Sialang yang merupakan sumber pendapatan kedua masyarakat di sekitar kawasan hutan Tesso Nilo (setelah getah karet) kini masuk pasar Internasional. Awal Juni lalu, TLH Product Industries yang berbasis di Selangor, Malaysia membeli satu ton madu organik produk tiga desa di sekitar kawasan konservasi Tesso Nilo yakni Lubuk Kembang Bunga, Air Hitam, dan Gunung Sahilan.
Melalui website madu Tesso Nilo yang dikembangkan WWF bersama Asosiasi Petani Madu Hutan Tesso Nilo (APMTN), TLH Product Industries mengutarakan ketertarikannya. Sampel madu pun dikirim ke Malaysia untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium milik perusahaan yang memproduksi suplemen makanan berbasis madu tersebut.
“Setelah diteliti, ternyata madu Tesso Nilo memenuhi standar mereka. Akhirnya mereka mengunjungi Tesso Nilo untuk melihat secara langsung potensi madu yang ada di sana. Dari potensi ini, mereka kemudian mengambil lagi sampel yang ada dan dibawa ke tempat mereka untuk diteliti lagi. Apakah memang benar madu yang dikirim kemarin itu sama dengan sampel yang diambil ketika mereka berkunjung. Akhirnya betul sama, tidak ada perbedaan. Mereka pun lalu memesan satu ton madu,” jelas Community Engagement Module Leader WWF-Indonesia Program Riau Adi Purwoko.
Untuk pengambilan satu ton madu, PT. TLH Product Industries mengirimkan perwakilannya datang ke Tesso Nilo untuk melihat langsung proses panen madu sampai dengan pengemasannya.
Madu Sialang Tesso Nilo telah diproses dengan menggunakan peralatan berstandar higienis. Sejak tahun 2004, WWF-Indonesia Program Riau mendampingi kelompok petani madu hutan dengan melakukan pelatihan untuk meningkatkan kulaitas madu dalam bentuk program Internal Control System (ICS). Melalui manajemen ICS, Kelompok Tani Usaha Madu Sialang memberikan jaminan akan kemurnian dan keaslian produk Madu Sialang Tesso Nilo.
Ekspor perdana madu Tesso Nilo ini kemungkinan besar akan berlanjut. Pasalnya, PT. TLH Product Industries telah menawarkan draft MoU untuk kerjasama antara perusahaan TLH, WWF, dan Asosiasi Petani Madu Hutan Tesso Nilo (APMTN).
“Kita berharap ini merupakan titik cerah bagi masa depan madu Tesso Nilo. WWF bersama APMTN sampai saat ini masih terus mengupayakan pasar-pasar lokal dan nasional, bahkan internasional untuk menyerap madu yang ada di Tesso Nilo. Dengan demikian keuntungan kelompok ini cukup lumayan karena selama ini harga madu di di tingkat lokal berkisar antara 15 sampai 20 ribu. Nah kelompok asosiasi ini membeli di masyarakat dengan harga 33 ribu. Dan kemarin ekspor ini kita menjual 37 ribu. Memang hal yang menjadi tantangan terbesar adalah pasar. Jadi kita berharap kita sama-sama saling membahu antara kelompok dan WWF untuk mencari peluang-peluang pesar yang bisa menyerap madu di Tesso Nilo dengan harga yang baik untuk masyarakat tentunya,” pungkas Adi.
Oleh: Masayu Yulien Vinanda 

Faktor-Faktor Pendorong Terjadinya Perdagangan Internasional

Latar Belakang Perdagangan Internasional
Perdagangan antarnegara atau lebih dikenal dengan perdagangan interanasional, sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu, namun dalam ruang lingkup dan jumlah yang terbatas, di mana merek melakukan transaksi dengan cara barter (pertukaran barangdenganbarang lainnya yang dibutuhkan oleh kedua belah pihak, dimana masing-masing negara tidak dapat memproduksi barang tersebut untuk kebutuhannya sendiri). Hal ini terjadi karena setiap negara dengan mitra dagangnya mempunyai beberapa perbedaan, di antaranya perbedaan kandungan sumber daya alam, iklim, penduduk, sumber daya manusia, spesifikasi tenaga kerja, konfigurasi geografis, teknologi, tingkat harga, struktur ekonomi, sosial dan politik, dan sebagainya. Dari perbedaan tersebut di atas, maka atas dasar kebutuhan yang saling menguntungkan, terjadilah proses pertukaran, yang dalam skala luas dikenal sebagai perdagangan internasional.
Pengertian Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Di banyak negara, perdagangan internasional menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan GDP. Meskipun perdagangan internasional telah terjadi selama ribuan tahun (lihat Jalur Sutra, Amber Road), dampaknya terhadap kepentingan ekonomi, sosial, dan politik baru dirasakan beberapa abad belakangan. Perdagangan internasional pun turut mendorong Industrialisasi, kemajuan transportasi, globalisasi, dan kehadiran perusahaan multinasional.
Teori Perdagangan Internasional
Menurut Amir M.S., bila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan di dalam negeri, perdagangan internasional sangatlah rumit dan kompleks. Kerumitan tersebut antara lain disebabkan karena adanya batas-batas politik dan kenegaraan yang dapat menghambat perdagangan, misalnya dengan adanya bea, tarif, atau quota barang impor.
Selain itu, kesulitan lainnya timbul karena adanya perbedaan budaya, bahasa, mata uang, taksiran dan timbangan, dan hukum dalam perdagangan.
Ø Model Ricardian
Model Ricardian memfokuskan pada kelebihan komparatif dan mungkin merupakan konsep paling penting dalam teori pedagangan internasional. Dalam Sebuah model Ricardian, negara mengkhususkan dalam memproduksi apa yang mereka paling baik produksi. Tidak seperti model lainnya, rangka kerja model ini memprediksi dimana negara-negara akan menjadi spesialis secara penuh dibandingkan memproduksi bermacam barang komoditas. Juga, model Ricardian tidak secara langsung memasukan faktor pendukung, seperti jumlah relatif dari buruh dan modal dalam negara.
Ø Model Heckscher-Ohlin
Model Heckscgher-Ohlin dibuat sebagai alternatif dari model Ricardian dan dasar kelebihan komparatif. Mengesampingkan kompleksitasnya yang jauh lebih rumit model ini tidak membuktikan prediksi yang lebih akurat. Bagaimanapun, dari sebuah titik pandangan teoritis model tersebut tidak memberikan solusi yang elegan dengan memakai mekanisme harga neoklasikal kedalam teori perdagangan internasional.
Teori ini berpendapat bahwa pola dari perdagangan internasional ditentukan oleh perbedaan dalam faktor pendukung. Model ini memperkirakan kalau negara-negara akan mengekspor barang yang membuat penggunaan intensif dari faktor pemenuh kebutuhan dan akan mengimpor barang yang akan menggunakan faktor lokal yang langka secara intensif. Masalah empiris dengan model H-o, dikenal sebagai Pradoks Leotief, yang dibuka dalam uji empiris oleh Wassily Leontief yang menemukan bahwa Amerika Serikat lebih cenderung untuk mengekspor barang buruh intensif dibanding memiliki kecukupan modal.
Ø Faktor Spesifik
Dalam model ini, mobilitas buruh antara industri satu dan yang lain sangatlah mungkin ketika modal tidak bergerak antar industri pada satu masa pendek. Faktor spesifik merujuk ke pemberian yaitu dalam faktor spesifik jangka pendek dari produksi, seperti modal fisik, tidak secara mudah dipindahkan antar industri. Teori mensugestikan jika ada peningkatan dalam harga sebuah barang, pemilik dari faktor produksi spesifik ke barang tersebut akan untuk pada term sebenarnya. Sebagai tambahan, pemilik dari faktor produksi spesifik berlawanan (seperti buruh dan modal) cenderung memiliki agenda bertolak belakang ketika melobi untuk pengednalian atas imigrasi buruh. Hubungan sebaliknya, kedua pemilik keuntungan bagi pemodal dan buruh dalam kenyataan membentuk sebuah peningkatan dalam pemenuhan modal. Model ini ideal untuk industri tertentu. Model ini cocok untuk memahami distribusi pendapatan tetapi tidak untuk menentukan pola pedagangan.
Ø Model Gravitasi
Model gravitasi perdagangan menyajikan sebuah analisa yang lebih empiris dari pola perdagangan dibanding model yang lebih teoritis diatas. Model gravitasi, pada bentuk dasarnya, menerka perdagangan berdasarkan jarak antar negara dan interaksi antar negara dalam ukuran ekonominya. Model ini meniru hukum gravitasi Newton yang juga memperhitungkan jarak dan ukuran fisik diantara dua benda. Model ini telah terbukti menjadi kuat secara empiris oleh analisa ekonometri. Faktor lain seperti tingkat pendapatan, hubungan diplomatik, dan kebijakan perdagangan juga dimasukkan dalam versi lebih besar dari model ini.
Manfaat Perdagangan Internasional
Pada dasarnya, perdagangan internasional bisa terjadi apabila kedua belah pihak memperoleh manfaat atau keuntungan dalam perdagangan tersebut (gains from trade).
Tidak semua negara dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, dengan adanya perdagangan internasional maka suatu negara dapat memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negaranya sendiri.Hal itu disebabkan oleh banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap negara. Faktor-faktor tersebut diantaranya : Kondisi geografi, iklim, tingkat penguasaan iptek dan lain-lain.
Perdagangan internasional juga dapat membuat suatu negara memperoleh keuntungan dari spesialisasi, karena sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah untuk memperoleh keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksi oleh negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri.
Terkadang, para pengusaha di suatu negara tidak menjalankan mesin-mesinnya (alat produksinya) dengan maksimal karena mereka khawatir akan terjadi kelebihan produksi, yang mengakibatkan turunnya harga produk mereka. Dengan adanya perdagangan internasional, pengusaha dapat menjalankan mesin-mesinnya secara maksimal dan menjual kelebihan produk tersebut keluar negeri sehingga suatu negara dapat memperluas pasar dan mendapatkan keuntungan.
Perdagangan internasional memungkinkan suatu negara untuk mempelajari teknik produksi yang lebih efesien dan cara-cara manajemen yang lebih modern. Dengan kata lain perdagangan internasional dapat melakukan transfer teknologi modern.
Faktor-Faktor Pendorong Terjadinya Perdagangan Internasional
Banyak faktor yang mendorong suatu negara melakukan perdagangan internasional, di antaranya sebagai berikut :
* Untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri
* Keinginan memperoleh keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara
* Adanya perbedaan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengolah sumber daya ekonomi
* Adanya kelebihan produk dalam negeri sehingga perlu pasar baru untuk menjual produk tersebut.
* Adanya perbedaan keadaan seperti sumber daya alam, iklim, tenaga kerja, budaya, dan jumlah penduduk yang menyebabkan adanya perbedaan hasil produksi dan adanya keterbatasan produksi.
* Adanya kesamaan selera terhadap suatu barang.

sumber : http://wartawarga.gunadarma

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN - WIND TURBINE

Wind turbine. Mengapa pilih Wind Turbine?

Wind turbin adalah pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan energi angin.
Angin berhembus tidak kenal waktu.
Angin dapat berhembus di pagi hari, siang hari bahkan malam hari.
Kapanpun angin berhembus, wind turbine dapat mengubah dan menyimpannya menjadi energi listrik.
Rasio investasi wind turbine cukup rendah. Untuk setiap 1 watt wind turbine, rasio investasi rata-rata adalah Rp 30.000. Artinya untuk wind turbine dengan kapasitas 1500watt, rata-rata investasinya sebesar Rp 45.000.000.

Sebagai pembanding adalah solar cell atau photovoltaic (PV).
PV memanfaatkan gelombang energi matahari untuk diubah menjadi energi listrik.
Matahari bersinar pada pagi hingga sore hari. Namun efektif gelombang energi matahari yang dapat dimanfaatkan menjadi listrik hanya berkisar pada pukul 10.00 hingga 14.00 saja. Belum lagi jika langit berawan atau bahkan mendung, besar gelombang energi matahari juga akan turun.
Rasio investasi solar cell cukup tinggi. Untuk setiap 1 watt peak, rasio investasi solar cell adalah Rp 70.000. Artinya untuk solar cell kapasitas 1500 watt peak, rata-rata investasinya sebesar Rp 105.000.000.

Wind Turbine / Turbin Angin

(Wind Turbine / Turbin Angin)
Sekarang di Indonesia sudah ada Wind Turbine / Turbin Angin yang sudah dapat berputar dan menghasilkan listrik walaupun pada kecepatan angin yang rendah. Wind Turbin / Turbin Angin ini namanya Low wind speed Wind Turbine (LWS Wind Turbine).

Wind Turbine ini didesain sedemikian rupa sehingga mampu menangkap angin dengan kecepatan kecil sekalipun menjadi energi putaran yang menggerakkan generator listrik. Kunci dari LWS Wind Turbine ini adalah pada teknologi baling-balingnya.

Pakar-pakar Wind Turbine / Turbin Angin di Indonesia dengan kemampuan teknologinya yang mumpuni telah berhasil membuat baling-baling yang sangat efektif sehingga mampu menangkap energi angin dalam kecepatan rendah sekalipun.

LWS Wind Turbine

Wind turbin yang kami tawarkan ada 2 macam, yaitu:

1. Wind turbin LWS-100
Spesifikasi wind turbin:
  • Rated Power: 100 watt efektif*
  • Rated wind speed: 5 m/s
  • Cut-in wind speed: 1.5 m/s
  • Wind speed protection: voltage control
  • Rotor diameter: 2 m
  • Rated output voltage: 220/240 V
2. Wind turbin LWS-1000
Spesifikasi wind turbin:
  • Rated Power: 1000 watt efektif*
  • Rated wind speed: 6 m/s
  • Cut-in wind speed: 2 m/s
  • Wind speed protection: voltage control
  • Rotor diameter: 3 m - 5 m
  • Rated output voltage: 220/240 V

*) Pada umumnya wind turbin yang diimport dari luar negeri memiliki rated wind speed yang tinggi. Sementara average wind speed di Indonesia jauh dibawah rated wind speed wind turbin import. Akibatnya, wind turbin import hanya dapat menghasilkan watt listrik dengan efisiensi hanya 15% - 20%. Dengan kata lain bahwa watt efektif yang dihasilkan oleh wind turbin import hanya 15% - 20% dari rated power yang disebutkan pada spesifikasinya.

Pada wind turbin LWS, rated power yang disebutkan adalah watt efektifnya.

(Wind Turbine)
Biaya listrik naik...
Isu pemanasan global merebak...
Supply energi listrik berbasis batubara kritis

(Wind Turbine)
Jika anda tinggal di daerah yang ber-angin
Jika anda adalah pelaku bisnis yang memerlukan energi listrik alternatif
Jika anda peduli pada usaha pengurangan pemanasan global....

(Wind Turbine)
Kami menyediakan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (Angin)
atau Wind Turbine
Energi lisitrik yang memanfaatkan angin...bersih...aman...energi terbarukan
Kami menyediakan Wind Turbine dengan kapasitas 1500watt.

Apa saja komponen Wind Turbine?

Wind Turbine. Apa itu wind turbin atau turbin angin?
Wind turbin atau turbin angin adalah pembangkit listrik seperti halnya PLTU (uap), PLTA (air), dll hanya saja energi yang digunakan untuk membangkitkan listrik adalah energi angin (bayu).
Makanya wind turbin atau turbin angin ini disebut juga Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).

Wind Turbine atau Turbin Angin atau Pembangkit Listrik Tenaga Bayu ini terdiri atas beberapa komponen yaitu:
1. Generator.
Ini adalah komponen inti yang akan mengubah energi kinetik angin menjadi energi listrik



2. Baling-baling (blade)
Bagian ini yang menangkap energi kinetik angin menjadi energi putaran.




3. Tiang
Tiang ini berfungsi meletakkan baling-baling ditempat yang tinggi yang relatif lebih berangin.







4. Panel Kontrol
Alat ini berfungsi sebagai kontrol tegangan listrik yang dihasilkan oleh wind turbine. Termasuk didalamnya adalah inverter AC-DC.





(Wind Turbine)
Segera hubungi: 0817793545

Kantor:
Ruko Bona Indah Plasa, Karang Tengah, Jakarta Selatan.

Pengaruh Inflasi Pada Pertumbuhan Ekonomi

Dampak Inflasi Terhadap Kegiatan Ekonomi Masyarakat
Dampak Positif
1. Peredaran / perputaran barang lebih cepat.
2.Produksi barang-barang bertambah, karena keuntungan pengusaha bertambah.
3. Kesempatan kerja bertambah, karena terjadi tambahan investasi.
4.Pendapatan nominal bertambah, tetapi riil berkurang, karena kenaikan pendapatan kecil.
Dampak Negatif
1. Harga barang-barang dan jasa naik.
2. Nilai dan kepercayaan terhadap uang akan turun atau berkurang.
3. Menimbulkan tindakan spekulasi.
4. Banyak proyek pembangunan macet atau terlantar.
5. Kesadaran menabung masyarakat berkurang.

Pihak-pihak yang Mendapatkan Keuntungan dan yang Menderita
Kerugian Akibat Terjadinya Inflasi
Pihak-pihak yang diuntungkan
a. Para pengusaha, yang pada saat sebelum terjadinya inflasi, telah memiliki stock/persediaan produksi barang yang siap dijual dalam jumlah besar.
b. Para pedagang, yang dengan terjadinya inflasi menggunakan kesempatan memainkan harga barang. Cara yang dipakai adalah dengan menaikkan harga, karena ingin mendapatkan laba/keuntungan yang besar.
c. Para spekulan, yaitu orang-orang atau badan usaha yang mengadakan spekulasi, dengan cara menimbun barang sebanyak-banyaknya sebelum terjadinya inflasi dan menjualnya kembali pada saat inflasi terjadi, sehingga terjadinya kenaikan harga sangat menguntungkan mereka.
d. Para peminjam, karena pinjaman telah diambil sebelum harga barang-barang naik, sehingga nilai riil-nya lebih tinggi daripada sesudah inflasi terjadi, tetapi peminjam membayar kembali tetap sesuai dengan perjanjian yang dibuat sebelum terjadi inflasi. Misalnya, para pengambil kredit KPR BTN sebelum inflasi yang mengakibatkan harga bahan bangunan dan rumah KPR BTN naik, sedangkan jumlah angsuran yang harus dibayar kepada BTN tetap tidak ikut dinaikkan.
Pihak-pihak yang dirugikan :


a. Para konsumen, karena harus membayar lebih mahal, sehingga barang yang diperoleh lebih sedikit jika dibandingkan dengan sebelum terjadinya inflasi.
b. Mereka yang berpenghasilan tetap, karena dengan penghasilan tetap, naiknya harga barang-barang dan jasa, mengakibatkan jumlah barang-barang dan jasa yang dapat dibeli menjadi lebih sedikit, sehingga pendapatan riil/nyata berkurang, sedangkan kenaikan penghasilan atau pendapatan pada saat terjadi inflasi sulit diharapkan.
c. Para pemborong atau kontraktor, karena harus mengeluarkan tambahan biaya agar dapat menutup pengeluaran-pengeluaran yang diakibatkan terjadinya inflasi dan mengakibatkan berkurangnya keuntungan yang diperoleh dari proyek yang dikerjakan.
d. Para pemberi pinjaman/kreditor, karena nilai riil dari pinjaman yang telah diberikan menjadi lebih kecil sebagai akibat terjadinya inflasi. Misalnya, sebelum inflasi, pinjaman Rp 500.000,00 = 25 gram emas, sesudah inflasi = 20 gram emas.
e. Para penabung, karena pada saat inflasi bunga yang diperoleh dari tabungan dirasakan lebih kecil jika dibandingkan dengan kenaikan harga yang terjadi. Di samping itu akibat naiknya harga barang-barang dan jasa, nilai uang yang ditabung menjadi lebih rendah/turun, jika dibandingkan dengan sebelum terjadi inflasi.

Hakekat Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif

1. Hakekat masalah penelitian
Penelitian atau riset adalah terjemahan dari bahasa Inggris research, yang merupakan gabungan dari kata re (kembali) dan to search (mencari). Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa research adalah berasal dari bahasa Perancis recherche.Intinya hakekat penelitian adalah “mencari kembali”.
Definisi tentang penelitian yang muncul sekarang ini bermacam-macam, salah satu yang cukup terkenal adalah menurut Webster’s New Collegiate Dictionary yang mengatakan bahwa penelitian adalah “penyidikan atau pemeriksaan bersungguh-sungguh, khususnya investigasi atau eksperimen yang bertujuan menemukan dan menafsirkan fakta, revisi atas teori atau dalil yang telah diterima”.
Dalam buku berjudul Introduction to Research, T. Hillway menambahkan bahwa penelitian adalah “studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut”. Ilmuwan lain bernama Woody memberikan gambaran bahwa penelitian adalah “metode menemukan kebenaran yang dilakukan dengan critical thinking (berpikir kritis)”.
Penelitian bisa menggunakan metode ilmiah (scientific method) atau non-ilmiah (unscientific method). Tapi kalau kita lihat dari definisi diatas, penelitian banyak bersinggungan dengan pemikiran kritis, rasional, logis (nalar), dan analitis, sehingga akhirnya penggunaan metode ilmiah (scientific method) adalah hal yang jamak dan disepakati umum dalam penelitian. Metode ilmiah juga dinilai lebih bisa diukur, dibuktikan dan dipahami dengan indera manusia. Penelitian yang menggunakan metode ilmiah disebut dengan penelitian ilmiah (scientific research).
1.1 Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berguna untuk memperoleh penemuan-penemuan yang tidak terduga sebelumnya dan membangun kerangka teoritis baru. Penelitian kualitatif biasanya mengejar data verbal yang lebih mewakili fenomena dan bukan angka-angka yang penuh prosentaase dan merata yang kurang mewakili keseluruhan fenomena. Dari penelaitian kualitatif tersebut, data yang diperoleh dari lapangan biasanya tidak terstruktur dan relative banyak, sehingga memungkinkan peneliti untuk menata, mengkritis, dan mengklasifikasikan yanglebih menarik melalui penelitian kualitatif. Istilah penelitian kualitatif, awalnya beraasal dari sebuah pengamatan pengamatan kuantitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kualitatif (Suwardi Endraswara, 2006:81).
Menurut Brannen (1997:9-12), secara epistemologis memangada sedikit perbedaan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif. Jika penelitian kuantitatif selalu menentukan data dengan variabel-veriabel dan kategori ubahan, penelitian kualitatif justru sebaliknya. Perbedaan penting keduanya, terletak pada pengumpulan data. Tradisi kualitatif, peneliti sebagai instrument pengumpul data, mengikuti asumsi cultural, dan mengikuti data.
Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif)adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif. Penelitian kualitatif mencakup berbagai pendekatan yang berbeda satu sama lain tetapi memiliki karakteristik dan tujuan yang sama. Berbagai pendekatan tersebut dapat dikenal melalui berbagai istilah seperti: penelitian kualitatif, penelitian lapangan, penelitian naturalistik, penelitian interpretif, penelitian etnografik, penelitian post positivistic, penelitian fenomenologik, hermeneutic, humanistik dan studi kasus. Metode kualitatif menggunakan beberapa bentuk pengumpulan data seperti transkrip wawancara terbuka, deskripsi observasi, serta analisis dokumen dan artefak lainnya. Data tersebut dianalisis dengan tetap mempertahankan keaslian teks yang memaknainya. Hal ini dilakukan karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami fenomena dari sudut pandang partisipan, konteks sosial dan institusional. Sehingga pendekatan kualitatif umumnya bersifat induktif.
Penelitian kualitatif adalah satu model penelitian humanistik, yang menempatkan manusia sebagai subyek utama dalam peristiwa sosial/budaya. Jenis penelitian ini berlandaskan pada filsafat fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1928) dan kemudian dikembangkan oleh Max Weber (1864-1920) ke dalam sosiologi. Sifat humanis dari aliran pemikiran ini terlihat dari pandangan tentang posisi manusia sebagai penentu utama perilaku individu dan gejala sosial. Dalam pandangan Weber, tingkah laku manusia yang tampak merupakan konsekwensi-konsekwensi dari sejumlah pandangan atau doktrin yang hidup di kepala manusia pelakunya. Jadi, ada sejumlah pengertian, batasan-batasan, atau kompleksitas makna yang hidup di kepala manusia pelaku, yang membentuk tingkah laku yang terkspresi secara eksplisit.

1.2 Penelitian Kuantitatif
Menurut August Comte (1798-1857) menyatakan bahwa paradigma kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun berdasarkan filsafat positivisme. Positivisme adalah satu aliran filsafat yang menolak unsur metafisik dan teologik dari realitas sosial. Karena penolakannya terhadap unsur metafisis dan teologis, positivisme kadang-kadang dianggap sebagai sebuah varian dari Materialisme (bila yang terakhir ini dikontraskan dengan Idealisme).
Dalam penelitian kuantitatif diyakini, bahwa satu-satunya pengetahuan (knowledge) yang valid adalah ilmu pengetahuan (science), yaitu pengetahuan yang berawal dan didasarkan pada pengalaman (experience) yang tertangkap lewat pancaindera untuk kemudian diolah oleh nalar (reason). Secara epistemologis, dalam penelitian kuantitatif diterima suatu paradigma, bahwa sumber pengetahuan paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi, dan lebih khusus lagi hal-hal yang dapat ditangkap pancaindera (exposed to sensory experience). Hal ini sekaligus mengindikasikan, bahwa secara ontologis, obyek studi penelitian kuantitatif adalah fenomena dan hubungan-hubungan umum antara fenomena-fenomena (general relations between phenomena). Yang dimaksud dengan fenomena di sini adalah sejalan dengan prinsip sensory experience yang terbatas pada external appearance given in sense perception saja. Karena pengetahuan itu bersumber dari fakta yang diperoleh melalui pancaindera, maka ilmu pengetahuan harus didasarkan pada eksperimen, induksi dan observasi (Edmund Husserl 1859-1926).
Sejalan dengan penjelasan di atas, secara epistemologi, paradigma kuantitatif berpandangan bahwa sumber ilmu itu terdiri dari dua, yaitu pemikiran rasional data empiris. Karena itu, ukuran kebenaran terletak pada koherensi dan korespondensi. Koheren besarti sesuai dengan teori-teori terdahulu, serta korespondens berarti sesuai dengan kenyataan empiris. Kerangka pengembangan ilmu itu dimulai dari proses perumusan hipotesis yang deduksi dari teori, kemudian diuji kebenarannya melalui verifikasi untuk diproses lebih lanjut secara induktif menuju perumusan teori baru. Jadi, secara epistemologis, pengembangan ilmu itu berputar mengikuti siklus; logico, hypothetico, verifikatif.
Tindakan
Tindakan adalah suatu perbuatan yang dilakukan dalam penelitian guna mencapai penelitian yang senpurna. Tindakan ini dimaksudkan agar peneliti mengetahui dengan jelas bahwa ada beberapa ketentuan dalam melakukan tindakan penelitian. Seperti halnya penelitian kualitatif dan kuantitatif, tindakan termasuk aspek yang perlu dikaji oleh seorang peneliti. Tindakan merupakan salah satu ketentuan dalam penelitian.
2. Bagaimana cara menemukan permasalahan
Pada umumnya guru kurang atau belum menyadari bahwa apa yang dihadapi adalah masalah, dan tidak mempermasalahkan. Biasanya sesuatu baru dianggap sebagai masalah jika guru telah merasa kewalahan, tidak berdaya dan tidak mampu menghadapi sendiri. Maka cara yang dapat dilakukan guru
1. Menuliskan semua hal yang dirasakan memerlukan perhatian, kepedulian karena akan mempunyai dampak yang tidak diharapkan terjadi, terutama terkait dengan pembelajaran; seperti intensitas waktu pembelajaran, penyampaian, daya tangkap dan serap siswa, alat/ media pembelajaran, manajemen kelas, motivasi, sikap dan nilai perilaku siswa, dan lain-lain.
2. Kemudian dipilahkan dan diklasifikasikan menurut jenis/ bidang permasalahannya, jumlah siswa yang mengalami, dan tingkat frekuensi timbul.
3. Urutkan dari yang ringan, jarang terjadi, banyaknya siswa mengalami dan masing-masing jenis permasalahannya.
4. Dari setiap urutan ambillah 3-5 masalah dan coba dikonfirmasikan kepada guru yang mengajar mata pelajaran sejenis, baik di dalam sekolah sendiri atau guru di sekolah lain.
5. Jika apa yang dirumuskan ternyata mendapat konfirmasi, maka masalah tersebut memang merupakan masalah yang patut untuk diangkat sebagai calon masalah.
6. Masalah yang telah dikonfirmasi tersebut kemudian dikaji kelayakan dan signifikansiniya untuk dipilih.
7. Pilihlah fokus permasalahan yang terbatas. yang berukuran kecil, yang dapat dicari solusinya dalam waktu singkat yang tersedia untuk melakukan penelitian tindakan.
8. Pilihlah fokus permasalahan yang penting untuk diselesaikan bagi kepentingan guru/dosen dan siswa/mahasiswa, dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di kelas/ruang kuliah.
9. Bekerjalah secara kolaboratif bersama mitra sejawat dalam penelitian ini, tanyalah apakah dia juga pernah menghadapi permasalahan yang semacam dengan masalah yang dihadapi guru/dosen.
10. Sebaiknya fokus permasalahan yang dipilih relevan dengan tujuan dan rencana perkembangan sekolah atau fakultas secara keseluruhan.
3. Bagaimana membuat rumusan masalah
Dalam memformulasikan atau merumuskan masalah, kiranya peneliti perlu memperhatikan beberapa ketentuan yang biasanya berlaku yaitu dengan memperhatikan:
1. aspek substansi;
2. aspek formulasi; dan
3. aspek teknis.
Dari sisi aspek substansi atau isi yang terkandung, perlu dilihat dari bobot atau nilai kegunaan manfaat pemecahan masalah melalui tindakan seperti nilai aplikatifnya untuk memecahkan masalah serupa/mirip yang dihadapi guru, kegunaan metodologik dengan diketemukannya model tindakan dan prosedurnya, serta kegunaan teoritik dalam memperkaya atau mengoreksi teori pembelajaran yang berlaku. Sedang dari sisi orisinalitas, apakah pemecahan dengan model tindakan itu merupakan suatu hal baru yang belum pernah dilakukan guru sebelumnya. Jika sudah pernah berarti hanya merupakan pengulangan atau replikasi saja.
Pada aspek formulasi, seyogyanya masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat interogatif (pertanyaan), meskipun tidak dilarang dirumuskan dalam bentuk deklaratif (pernyataan). Hendaknya dalam rumusan masalah tidak terkandung masalah dalam masalah, tetapi lugas menyatakan secara eksplisit dan spesifik tentang apa yang dipermasalahkan.
Dan aspek teknis, menyangkut kemampuan dan kelayakan peneliti untuk melakukan penelitian terhadap masalah yang dipilih. Pertimbangan yang dapat diajukan seperti kemampuan teoritik dan metodologik pembelajaran, penguasaan materi ajar, kemampuan metodologi penelitian tindakan, kemampuan fasilitas untuk melakukan penelitian seperti dana, waktu, tenaga, dan perhatian terhadap masalah yang akan dipecahkan. Oleh karena itu, disarankan untuk berangkat dari permasalahan sederhana tetapi bermakna, guru dapat melakukan di kelasnya dan tidak memerlukan biaya, waktu, dan tenaga yang besar.
Analisis Masalah
Yang dimaksud dengan analisis masalah di sini ialah kajian terhadap permasalahan dilihat dan segi kelayakannya. Sebagai acuan dapat diajukan beberapa hal berikut.
1. konteks, situasi atau iklim di mana masalah terjadi
2. kondisi-kondisi prasyarat untuk terjadinya masalah
3. keterlibatan komponen, aktor dalam terjadinya masalah
4. kemungkin adanya alternatif solusi yang dapat diajukan
5. ketepatan dan lama waktu yang diperlukan untuk pemecahan masalah
Analisis masalah tersebut dipergunakan untuk merancang rencana tindakan baik dalam menentukan spesifikasi/jenis tindakan, keterlibatan aktor yang berkolaborasi (berperan), waktu dalam satu siklus, identifikasi indikator perubahan peningkatan dan dampak tindakan, cara pemantauan kemajuan, dan lain-lain. Formulasi alternatif solusi yang dirumuskan dalam bentuk hipotesis tindakan hanya mungkin dapat dilakukan jika analisis masalah dapat dilakukan dengan balk.

About

Diberdayakan oleh Blogger.