Laman

Jumat, 19 November 2010

Arti Branding untuk Dunia Kecantikan

Detail Berita
Arti branding untuk dunia kecantikan. (Foto: Google)

PRODUK apapun, pasti membutuhkan merek (brand) agar dikenali oleh konsumennya. Membangun branding adalah tugas inti dari para pelaku bisnis. Namun, masih banyak orang yang salah mengartikan arti branding. Padahal itu bisa merugikan pelaku bisnis, hingga konsumen.

ASumsi banyak orang branding harus menggunakan spanduk, iklan, reklame, baliho, atau mungkin beragam acara yang membuat produk tersebut bisa dikenal pasar. Tentunya hal ini akan menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Padahal, branding adalah sebuah pencitraan suatu produk yang tidak hanya dilihat secara visual tetapi juga dari segi isi, pesan, dan mutu. Branding tidak hanya melibatkan marketing, tetapi semua elemen yang berkecimpung di dalamnya. Semuanya menjadi bagian proses branding. Logo, dan target pasar juga memudahkan proses ini, tetapi faktor lain harus ikut dipertimbangkan.

Salah satu produk yang bisa mendapat persepsi salah adalah dalam dunia kecantikan. Padahal, branding di dunia yang berhubungan dengan kaum hawa ini, branding tak hanya dilihat dari produk saja.

"Kecantikan dibuat hanya beauty contest. Di Dove semua wanita sudah cantik. Kecantikan yang dilihat di persimpangan jalan, bukan hanya produk. Tapi dari photosop," kata Chairman Southeast Asia dm IDHOLLAND, Daniel Surya dalam acara presentasi dan diskusi branding "Brand is Still a Miss Understood" yang dihelat MNC Group, Gedung High End, Jakarta Pusat, Jumat (19/11/2010).

Daniel menuturkan, jika branding suatu produk sama, maka akan membuat konsumen memilih produk yang lebih murah.

"Branding bukan hanya beauty contest. Branding bukan hanya coorporate, bukan hanya produk. Dunia yang sama. Kalau produk sudah sama, konsumen akan memilih harga yang paling murah," imbuhnya.

Lebih lanjut Daniel mengungkapkan, branding perlu dilakukannya gerakan khusus untuk membuat branding produk lebih mengena pada konsumen.

"Kenapa kita hidup di dunia yang sama? Ini yang membuat kita generik, similiar, ada 6,5 juta turis per tahun. Kenapa kita hanya segini? Sebab selalu kalau kita tanyakan pada pihak tertentu, selalu jawabannya kita punya segala-galanya. Tapi kita enggak sendiri, ada Singapura, Thailand, Malaysia, di Indonesia hanya satu, Visit Indonesia. Karena itu kita harus bikin gerakan khusus," tutup Daniel.

Adhini Amaliafitri - Okezone

(nsa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About

Diberdayakan oleh Blogger.