Laman

Rabu, 17 November 2010

Angklung Ditetapkan Jadi Warisan Dunia

JAKARTA, KOMPAS.com - Alat musik angklung yang merupakan khasanah budaya Indonesia, pada sidang ke-5 Inter-Governmental Committe Unesco di Nairobi, Kenya, 16 November pukul 16.20 waktu setempat, ditetapkan sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.


Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Tjetjep Suparman, yang juga Pimpinan Delegasi Republik Indonesia pada sidang tersebut mengatakan, ditetapkannya alat musik angklung ini sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, merupakan kebanggaan bagi Indonesia.

"Ini membuktikan betapa kekayaan budaya Indonesia untuk alat musik angklung pantas menjadi warisan budaya dunia tak benda," katanya, saat dihubungi Rabu (17/11/2010) malam dari Jakarta, melalui Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, I Gusti Ngurah Putra.

Tjetjep menjelaskan, angklung merupakan rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu yang berasal dari Jawa Barat. Jenis bambu yang dipakai biasanya menggunakan awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu ber warna putih). Setiap nada yang dihasilkan dari bunyi tabung bambu yang berbentuk wilahan dari ukuran kecil, sedang, hingga besar, akan membentuk irama lagu yang mengasyikkan.

Asal muasal terciptanya musik angklung tak bisa dilepaskan dari pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi sebagai makanan pokok, yang melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi, pemberi kehidupan. Kendati muncul pertamakali di daerah Jawa Barat, angklung dalam perkembangannya, berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana. Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

Direktur Pengembangan Bisnis Saung Angklung Udjo, Satria, yang dimintai komentarnya mengatakan, penetapan angklung sebagai The Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, di Nairobi, Kenya, tanggal 16 November 2010, merupakan momentum yang luar biasa. "Ini sebuah pengakuan yang pantas kita syukuri dan merupakan momentum yang luar biasa," katanya.

Ia menjelaskan, orang Indonesia cenderung melihat angklung dari fungsi kebendaannya saja. Padahal, dalam angklung ada banyak nilai-nilai yang bisa diambil. Dan ini tantangan ke depan, ketika angklung sudah merupakan warisan dunia tak benda, nilai-nilai lain itu harus lebih dimasyarakatkan. Tantangan ke depan, lanjutnya, bagaimana angklung digunakan dalam industri kesehatan, seperti untuk terapi kesehatan dan banyak nilai-nilai lain yang bisa dikembangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About

Diberdayakan oleh Blogger.