Laman

Rabu, 10 November 2010

Tidur Larut Ganggu Mental Anak

Detail Berita
Bermain video games hingga larut malam terbukti dapat berakibat buruk pada anak-anak. (Foto: Getty Images)

TIDUR larut malam karena asyik bermain video games atau menelepon teman terbukti tidak hanya mengganggu fisik anak, tetapi juga mental. Anak akan bermasalah dalam pelajaran sekolah, kecemasan meningkat, bahkan bisa berujung pada depresi.
Bermain video games, surfing di internet, dan mengirim SMS hingga larut malam terbukti dapat berakibat buruk pada anak-anak dan remaja. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan, kebiasaan tersebut dapat mengganggu masalah belajar, berubah-ubahnya mood, meningkatnya kecemasan, serta berkembangnya depresi pada mereka.

Penelitian yang dilakukan di Sleep Disorders Center di JFK Medical Center di Edison, NJ, Amerika Serikat, menemukan fakta bahwa anak-anak yang menghabiskan waktu bersama ponsel, komputer, dan perangkat elektronik lainnya pada jam-jam tidur memiliki kesempatan lebih besar mengalami gangguan tidur dan kesulitan lainnya.

”Ini bukan termasuk kegiatan yang mengundang tidur, seperti membaca novel atau mendengarkan musik. Kalau kegiatan tersebut malah merangsang otak dan menekan siklus tidur yang normal,” kata peneliti Dr Peter G Polos seperti dikutip healthday.com.

Tim Polos dijadwalkan mempresentasikan temuan ini pada Senin (8/10) di acara pertemuan tahunan American College of Chest Physicians di Vancouver, Kanada.
Penelitian ini didasarkan pada survei terhadap 40 anak laki-laki dan perempuan dengan usia ratarata 14 tahun.

Para peneliti fokus pada kegiatan mereka setelah pergi ke kamar untuk tidur malam, yang seharusnya langsung tidur. Partisipan dilaporkan rata-rata mengirim 34 SMS per malam sebelum tidur dan rata-rata 3.400 SMS per bulan.

SMS ini dikirim mulai dari 10 menit sampai empat jam setelah mereka pergi ke tempat tidur. Para peserta rata-rata satu kali terbangun gara-gara membaca SMS. Anak perempuan biasanya cenderung mengirim ”SMS kebahagiaan”, sementara anak laki-laki lebih banyak tetap terjaga bermain video games.

”Semua peserta telah mendatangi klinik untuk mengobati masalah gangguan tidur mereka,” kata Polos, seorang dokter di rumah sakit dan seorang instruktur klinis di Sleep Disorders Center tersebut. Penelitian ini menemukan korelasi antara penggunaan media elektronik pada larut malam dan gangguan masalah perhatian/hiperaktivitas, mood, kecemasan, depresi, dan penurunan fungsi kognitif (keterampilan berpikir) di siang hari.

Kata Polos, sekitar setengah dari orang tua partisipan tidak tahu apa yang anak-anak mereka lakukan. Yang lain tahu, tetapi memiliki sikap fatalistik. ”Mereka (para orangtua) berpikir, ‘Ini adalah dunia tempat kita hidup, apa yang bisa Anda lakukan?’,” tandasnya. Namun, orangtua perlu memantau penggunaan media elektronik oleh anak karena, menurut dia, pada waktu malam orang tua tetap saja orangtua, dan anak-anak tetap menjadi anak-anak.

Polos menuturkan, para dokter harus mulai bertanya kepada anak-anak dan remaja secara rutin tentang penggunaan media pada waktu malam dan berbicara dengan mereka –tentu bersama dengan orangtuanya– tentang dampak negatif dari tidur yang buruk. Menyebut Amerika sebagai peningkatan ”budaya kurang tidur”, Polos mencatat sedikit remaja saat ini yang cukup tidur dengan banyaknya kegiatan olahraga, pekerjaan rumah, dan bangun pagi untuk sekolah.

”Penggunaan media di tengah malam sama sekali tidak membantu,” katanya. Pakar anak Richard Gallagher mengatakan, alasan lain agar orangtua perlu memonitor penggunaan media oleh anakanak adalah untuk mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan anak-anak mereka.

”Orangtua harus melihat perspektif hidup mereka sendiri saat masa pertumbuhan,” kata Gallagher, direktur Parenting Institute, Child Study Center, NYU Langone Medical Center di New York City, Amerika Serikat.

Dia menyebutkan, orangtua harus menaruh kecurigaan saat anak-anak mereka berbicara di telepon atau bergaul dengan temannya karena semua itu lazim terjadi di dunia nyata. Hal itu biasa dilakukan ketika keluarga biasanya hanya memiliki telepon satu atau dua buah. ”Orangtua waspada saat seseorang datang ke rumah dan mencari putra atau putrinya,” kata Gallagher, seorang profesor psikiatri remaja di New York University.

Dia menambahkan, anak-anak memang memiliki privasi, tetapi orangtua juga perlu membuat batasan lebih tegas saat mereka tumbuh dewasa. Orangtua perlu menetapkan aturan, seperti tidak ada computer di kamar tidur anak, tidak ada panggilan telepon selama waktu makan, dan menetapkan jam malam menggunakan telepon.

”Kemudian mintalah anak mematikan ponsel saat tidur,” tandas Gallagher.
Gallagher juga mencatat bahwa pengaruh media bisa baik bagi beberapa anak yang memiliki ”lebih banyak kontak dengan orang lain daripada biasanya anakanak”. ”Tetapi orangtua juga perlu menyadari bahwa semua pesan SMS yang dikirim atau diterima tidak selalu baik atau tentang halhal yang mereka ingin anak-anak mereka untuk dipikirkan terus-menerus,” katanya.

Karena anak-anak banyak menerima dan mengirim pesan singkat di ponsel sepanjang hari, menurut Gallagher, tidak ada istirahat bagi anak dari segala rutinitas atau masalah terkait anak-anak yang mungkin alami. Namun, kedua ahli sepakat bahwa efek jangka panjang dari penggunaan rutin alat elektronik pada anak sampai saat ini belum diketahui dan perlu penelitian lebih lanjut.

Selain itu, mereka berdua menekankan perlunya orangtua untuk berbicara dengan anak-anak mereka sejak dini. Mengutip contoh dari orangtua yang terpaksa mematikan router di malam hari, Polos mengatakan, penting bagi orang tua untuk segera bertindak sebelum itu menjadi masalah besar. ”Sebelum terlambat, seperti kuda yang sudah keluar dari kandang,” kata Polos jika orang tua menunda diri untuk terlibat.

(SINDO//tty)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

About

Diberdayakan oleh Blogger.